Mendengar berita dari Cina Jamblang, Cina Plered meminta bantuan pada Cina Jatiwangi (Majalengka). Setelah tiba di Jatiwangi, Cina Plered bergabung dengan Cina Jatiwangi lalu berangkat menuju Leuwi Munding (Majalengka). Di Kota ini orang-orang Cina berkumpul siang dan malam memikirkan bagaimana menghadapi kaum santri, mereka semuanya ketakutan kecuali Baba Su In, Sung Yat dan Sang Wi, tiga pendekar itu tidak tembus oleh berbagai macam senjata dan siap menghadapi musuh baik para santri, haji maupun ulama.
Tiga pendekar Cina beserta pasukannya bersiap siaga menghadapi kaum santri. Raden Sanusi dan Durajak menyusup dari belakang. Dengan balok kayu besar mereka menyerang orang-orang Cina sehingga banyak yang tewas. Baba Sang Wi dan Sung Yat lari terbirit-birit, seluruh isi rumah orang Cina luluh lantak. Tidak lama kemudian datanglah Demang Suwirya bersama Upas dan Serdadu, membawa bedhil, pedang dan meriam.
Pak Murba Wijaya, Jaka Sari, Suhemin dan Muhammad Bogor beserta para santi bergerak menuju pemukiman orang Cina di Arjawinangun (Cirebon), disana musuh sudah merapatkan barisan, Suhemin menyusup ke rumah orang Cina, masuk ke kandang babi dan memberikan cairan pada minuman babi. Tiba-tiba ratusan babi mengamuk, menggigit dan menyerang nyonya-nyonya Cina. Akibatnya banyak nyonya-nyonya Cina yang terluka. Baba Keng Nyok yang dianggap berani oleh teman-temannya hanya diam terheran-heran. Segerombolan prajurit Cina langsung dikepung dari berbagai arah. Mereka akhirnya tak dapat berbuat apa-apa.
Baca Juga:Pertempuran Magdhaba di Semenanjung Sinai, Tahun 1916Tahun 1542, Kelahiran Muhammad Akbar Jalaludin, Raja Kesultanan Mughal Ke-3
Orang-orang Cina Arjawinangun akhirnya menyerahkan diri pada Demang Gurinda. Kucir merka dipotong satu persatu, lalu dimasukan ke dalam peti dan dibawa ke distrik. Sejak kejadian itu setiap bulannya orang-orang Cina Arjawinangun harus membayar upeti
Diceritakan, di Indramayu, Kiai Sueib dan para santrinya siang malam bermusyawarah di rumah Haji Harun, Kalimati. Sementara para Haji (dari Tegalurung) serta Kiai Idris dan Kiai Mail (dari Wotgalih) bermusyawarah di Singaraja, tepatnya di kediaman Haji Sidiq.
Ki Tarmidi meluncur ke Losari, menghadap kepada Raden Bunawan. Disana Raden Bunawan menginstruksikan Tarmidi untuk bergerak sebelum hari Rabu Manis supaya mendapatan kemenangan. Ki Tarmadi menjemput Ki Murba, Jaka Sari, Raden Sanusi, Durajak dan Sahemin. Lalu mereka menuju Kalimati. Kepada teman-temannya, Ki Tarmidi memberitahukan bahwa pada ba’da Jumat berkumpul di Singaraja, Ki Tarmidi yang dikawal sekelompok santri disambut oleh Haji Harun beserta santri-santrinya.
