Naskah Sedjarah Kuntjit: Tragedi Kucir

BANGUNAN TUA
ILUSTRASI: Bangunan tua masih dijadikan rumah bagi keturunan etnis Tionghoa di Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon. Foto: Samsul Huda/Radar Cirebon
0 Komentar

Para Santri bergerak menuju Jangga, melewati desa Pangkalan dan Desa Rancagunda. Disana Baba Tang Kin, Heng Lin, Keng Yan, Heeng Kih, Swan Ho dan Heng Yu bersiap menyambut. Senjata yang mereka gunakan adalah pedang, bedil, kuli-kuli, tombak, klewang dan linggis. Baba Ki Sang yang baru saja datang dari Jawa (Jawa Tengah-Timur) turut membantu teman-temannya sambil membawa pentungan. Mendengar suara Adzan yang diikuti suara tembakan, Prajurit Cina mulai merapatkan barisan meskipun agak gemetar. Nyonya-nyonya hanya histeris menangis karena takut.

Perang terjadi di beberapa ruas jalan, mulai dari Desa Krimun, Pendawa, Jangga, Pangkalan Rancagunda, Puntang, Sukawera, Karanggandok sampai Losarang Kulon. Nyonya-nyonya yang menangis ketakutan segera menghadap Demang dan Ngabehi (Bupati) untuk memohon pertolongan. Mereka tidak peduli lagi dengan harta bendanya yang berserakan. Sementara prajurit Cina dikepung dari segala arah oleh kaum santri sehingga mereka menyerah. Lalu datanglah Ki Demang, Upas, Ngabehi beserta bala tentaranya, berpura-pura mau mengejar santri dan ulama. Orang-orang Cina kemudian dimasukan ke Paseban, lalu satu persatu kucirnya dipotong. Mereka kemudian diwajibkan tinggal di Kota Indramayu

Di Desa Parean, orang-orang berkumpul, sebagian diantaranya Cina Karangsinom. Sementara para santri di rumah Anjun. Diantara yang turut hadir adalah Ki Tarmidi, Haji Harun dan Orang Arab. Ki Ramadi menyampaikan bahwa pada hari Jumat tanggal 3 akan bergerak.

Baca Juga:Pertempuran Magdhaba di Semenanjung Sinai, Tahun 1916Tahun 1542, Kelahiran Muhammad Akbar Jalaludin, Raja Kesultanan Mughal Ke-3

Cina Parean bersiap siaga menghadapi para Santri, segala macam senjata telah disiapkan. Pimipnannya adalah Baba Ke Cang, kepada pengikutnya ia menjelaskan sesembahan orang Cina itu lebih luhur dari para santri.

Suatu hari Raden Sanusi masuk kedalam toko Sang Bih, milik orang Cina, berpura-pura membeli baju. Nyonya Cina nan cantik pemilik toko dipeletnya, sehingga ia mengikuti Radn Sanusi dari belakang. Tidak terima istrinya digoda, Baba Ke Cang mengejarnya sembari menenteng pedang. Sanusi ditebas dengan pedang, tapi pedangnya ditangkap, lalu dilemparkan. Baba Ke Cang lalu ditendang hingga tersungkur.

Cina Parean membantu Baba Ke Cang, mau mengepung Raden Sanusi. Pak Murba dan Jaka Sari datang membantunya. Baba Tiyang Bih menebas Pak Murba, tetapi senjata ditangkap, di buang, Pak Murba balik menggampar. Kiai Sarip akan ditebas oleh Baba Cung Yang, tetapi tebasan berhasil ditangkis, Baba Cung Yang jatuh tersungkur.

0 Komentar