Tiga ulama asal Lelea, yakni Kiai Prana, Kiai Saripin dan Kiai Maruk berangkat menuju Singaraja pada hari Jumat Tanggal 8. Mereka berjalan melewati Desa Larangan. Sampai di Pasar Celeng, mereka dihadang oleh Cina Celeng. Kiai Prana naik pitam membentak orang Cina sehingga mereka bertiga diserang. Bahkan Kiai Sarip sempat beseteru dengan Baba King Wat. Tiga Ulama berlari kencang hingga terjebur di sungai. Mereka terus berlari masuk ke rumah-rumah penduduk. Akhirnya mereka tiba di Singaraja.
Dengan nafas masih tersenggal-senggal kelelahan. Kiai Sarip memberi tahu Kiai Jakariyah bahwa Cina Lelea menyiapkan perlawanan pada para santri. Orang-orang Cina disanapun berani menghina para Ulama. Kiai Sarip memint penjelasan yang sebenarnya. Ki Tarmidi lalu mengajak kiai Sarip dan dua temannya untuk bergabung.
Para ulama berangkat menuju Celeng, tiba di perbatasan Slaur, ada penjagaan ketat. Baba Ke Ih melarang siapapun yang melewati perbatasan itu. Para Kiai memaksanya. Hasilnya Kiai Sarip, Kiai Prana, dan Kiai Sanusi menyerangnya. Kemudian Kiai Sanusi menembaki orang-orang Cina. Baba Ke Kih dan Sung Kahi yang mencoba menyerang dengan senjata malah ditendang oleh Ki Sanusi hingga tumbang. Sementara Durajak hanya tersenyum saat menyaksikan Baba King Sang memasang kuda-kuda. Hanya sekali pukul pada bagian dadanya Baba King Sang ambruk oleh Durajak.
Baca Juga:Pertempuran Magdhaba di Semenanjung Sinai, Tahun 1916Tahun 1542, Kelahiran Muhammad Akbar Jalaludin, Raja Kesultanan Mughal Ke-3
Orang-orang Cina berlarian masuk ke rumah. Para santri mengejarnya masuk, menghancurkan meja, kursi dan seluruh isi rumah. Kepala Baba Kek Nyo terkena pecahan beling. Nyonya-nyonya menjerit ketakutan. Suhemin, Jaka Sari dan Murba Wijaya mencari prajurit Cina. Sebagian ada yang tertangkap sebagian ada yang melarikan diri, bahkan banyak yang tewas, termasuk Baba Munding Yat. Seluruh isi rumah hancur berhambuaran di jalan. Seorang pemuda Cina bernama Baba Cu Tin datang menantang. Durajak menangkapnya.
Baba Kig Seng mengejar Raden Sanusi, Durajak menghadangnya, lalu menggampar Baba King Seng hingga tersungkur. Baba King Wan menolong temannya sambil membawa Klewang. Baba Tiyang Wi menembaki para santri. Sejumlah prajurit Cina lainnya membantu, mereka turut menyerang dengan menggunakan tombak, pedang dan panah. Num para santri tidak sedikitpun gentar.
