Naskah Sedjarah Kuntjit: Tragedi Kucir

BANGUNAN TUA
ILUSTRASI: Bangunan tua masih dijadikan rumah bagi keturunan etnis Tionghoa di Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon. Foto: Samsul Huda/Radar Cirebon
0 Komentar

NASKAH Sedjarah Kuntjit yang selesai di tulis oleh Jaka Sari pada 1918 didalamnya terdiri dari tiga Jilid, masing-masing jilid kisahnya saling berhubungan. Naskah, didalamnya mengisahkan tentang awal mula meletusnya Tragedi Kucir pada 1913 hingga akhir tragedi.

Pada Tahun 1913 Jaka Sari berjuang membela rakyat. Pada suatu ketika Jaka Sari dan Ki Murba Wijaya berangkat ke Sindanglaut (Cirebon Timur) untuk menghadap kepada seorang pembesar, namanya Raden Bunawan (Goenawan).

Sepulang dari Sindanglaut, lalu mereka membagi tugas: Muhammad Bogor sebagai Supir, Sanusi sebagai penasehat, Ki Tarmidi bertugas membagikan ilmu kesaktian, Kartawiguna dan Sahemin bertugas menyerang musuh, Ki Sapih sebagai penengah (Juru Runding), Ki Satu menjadi penyedia berbagai macam senjata.

Baca Juga:Pertempuran Magdhaba di Semenanjung Sinai, Tahun 1916Tahun 1542, Kelahiran Muhammad Akbar Jalaludin, Raja Kesultanan Mughal Ke-3

Di Losari (Cirebon) musyawarah besar yang dihadiri oleh sejumlah santri dan ulama, para Bupati, dan para tetua. Sidang dipimpin oleh Raden Bunawan (Goenawan), adapun hasil yang diputuskan adalah “Orang Cina harus diserang karena mereka adalah penjajah di Pulau Jawa. Selain itu, mereka juga harus berbaur dengan masyarakat lokal atau orang-orang Jawa”.

Raden Bunawan menyampaikan pada Ki Mandaka untuk segera berangkat menuju Arjawinangun (Cirebon). Ki Mandaka segera bersiap-siap menjalankan perintah Raden Bunawan.

Muhamad Bogor memerintahkan Ki Tarmidi, Raden Sanusi dan Jaka Sari untuk segera ke Kota Jamblang (Cirebon). Keberangkatan dikawal oleh segerombolan santri. Di sana Ki Brahim, juga para Haji dan Santri bersiap menyambut kedatangannya. Ki Tarmadi yang menerima mandat langsung dari Muhammad Bogor, menyampaikannya kepada Ki Brahim bahwa hari itu juga diizinkan untuk menyerang orang-orang Cina.

Tibalah mereka di Jamblang. Ki Brahim menyampaikan kepada Baba Seng Kik bahwa Kucir orang-orang Cina akan dipotong, dengan alasan untuk dijadikan azimat supaya banyak mendapatkan ikan saat melaut. Tak lama kemudian keluarlah Baba Keng Wan disusul oleh Baba Su Wing sambil membawa pedang dan senjata. Perkelahian terjadi. Orang-orang Cina menembaki para santri tapi meleset, Cina kalah bertempur. Banyak orang Cina yang tewas sebagian ada yang melarikan diri, sementara nyonya-nyonya menangis ketakutan.

Cina Jamblang menyerah, mereka berfikir lebih baik kucirnya dipotong daripada diusir dari tanah Jawa. Mereka lalu menghadap kepada Demang Wijaya untuk meminta Beos (Surat Izin Tinggal).

0 Komentar