Baba Sing Wat menyerang Ki Tarmidi dari atas, menaiki seutas kawat. Ki Tarmidi membaca “Sumum Bukmun Fahum Laya’qilun” ia terjatuh dari atas kawat dengan posisi kepala di bawah, lalu bangkit menyerang kmbali. Oleh Durajak Baba Sing Wat dilempar ke atas genteng. Bala Cina dan Bala Santri saling lempar prabotan rumah. Ki Suhemin menembaki seisi rumah yang didalamnya terdapat orang-orang Cina. Akibatnya banyak orang-orang Cina yang tewas. Serpihan botol, mangkok, piring dan kaca berserakan dimana-mana, bahkan rumah pun roboh.
Kerusuhan terjadi lagi antara orang Cina dan Ulama dari Slaur sampai Celeng. Orang-orang Cina bersenjatakan golok cabang, belati, walat, tombak dan panah. Namun para Ulama tidak gentar. Mereka saling serang. Tidak seikit orang-orang Cina yang gugur, sebagian ada yang melarikan diri, bersembunyi isemak-semak. Ada pula yang kebingungan mencari sanak saudaranya. Rumah-rumah orang Cina ditinggalkan begitu saja.
Nyonya-Nyonya Cina melamun, bersedih hati ada pula yang menangis sejadi-jadinya. Mereka lalu pergi ke Indramayu Kota menghadap kepada Bupati untuk memohon pertolongan. Tetapi mereka justru dimasukan ke penjara karena tidak segera melapor saat kejadian, bahkan dengan kekayaannya mereka dianggap terlalu sombong berani melawan pemerintah dan tidak mau mengakui kedudukan Bupati. Oleh Upas mereka digiring ke penjara. Selama di penjara, sandang pangannya dijamin. Setelah masa kurungan selesai mereka keluar dari penjara. Bagi kaum laki-laki, sebelum meninggalkan penjara kucirnya wajib dipotong. Namun demikian mereka dilarang kembali di Celeng harus tinggal di Kota Indramayu.
Baca Juga:Pertempuran Magdhaba di Semenanjung Sinai, Tahun 1916Tahun 1542, Kelahiran Muhammad Akbar Jalaludin, Raja Kesultanan Mughal Ke-3
Dikisahkan, para ulama dan santri bermusyawarah, dipimpin oleh Kiai Tarimadi. Haji Brahim juga turut hadir. Usai bemusyawarah sekerumunan bala santri, kiai dan haji berjalan dari desa Cangkring, melewati Larangan, Langut sampai ke Pangkalan. Sepanjang jalan mereka berzikir, suaranya bergemuruh.
Mendengar kabar para santri mau memotong kucir orang-orang Cina, Baba Su Yang dan teman-temannya bersiap menghadang. Mereka dibekali berbagai macam persenjataan, mulai dari bedil, tombak, pedang, keris, belati, klewang, dan patrembomo. Ki Mandaka dihajar dengan menggunakan linggis oleh Baba Hong Kih hingga terjatuh. Tapi ia bangkit kemudian balik menempeleng dan menghantamnya. Baba Sing Wat menolong temannya dengan menembaki lawan, tapi malah dilempar oleh Ki Mandaka. Pedang Baba Ke Cang dipatahkan menjadi dua oleh Ki Mandaka, saat mau menyerangnya.
