Bulan dan tahun-tahun berikutnya penuh pertikaian antara Belanda dan Indonesia. Segala usaha dilakukan untuk mengembalikan status quo. Dari jalan militer hingga diplomasi ditempuh Belanda untuk memastikan tanah jajahannya ini tetap berada dalam genggaman. Dan dengan segala keterbatasan, juga konflik internal yang tidak mudah, pemerintahan Republik Indonesia mencoba bertahan, terus bertahan, sampai akhirnya mendapatkan pengakuan kedaulatan melalui perundingan Konferensi Meja Bundar.
Barulah pada hari itu, 28 Desember 1949, Sukarno akhirnya bisa menginjakkan kaki lagi di Jakarta. Setelah mendarat, bersama Sri Sultan, Sukarno naik ke mobil dengan kap terbuka. Dari Bandara, mereka beriringan menuju Istana Negara. Sehingga rakyat Jakarta yang menanti di pinggir jalan bisa melihat Presiden mereka. Di kanan dan kiri agak depan, dua sepeda motor pengawal membuka jalan.
Ketika mobil mendekati Istana, sebagian dari kerumunan massa mendekati mobil Sukarno. Namun mereka masih memberi jalan kepada iringan mobil presiden. Massa melambai-lambaikan tangan kepada Paduka Yang Mulia Presiden Republik Indonesia. Setelah mobil presiden melintas di depan mereka, mobil itu mereka ikuti dari belakang dengan berlari.
Baca Juga:Benazir Bhutto, Perempuan Pertama Memimpin Negara Muslim Tewas Dibunuh27 Desember 537 Hagia Sophia Selesai Dibangun
Sesampainya di istana, Sukarno berdiri di beranda. Ia didampingi Letnan Kolonel Daan Yahya dan beberapa pembesar lain. Massa berkerumun di depan istana, meluber hingga kawasan sekitar tanah lapang yang kini jadi Lapangan Monas. Segelintir massa yang terjangkau oleh Presiden disalami satu persatu.
“Merdeka! Merdeka!” menjadi pekikan pembuka tatap muka Sukarno bersama massa yang mengelu-elukannya. Pekikan itu diteriakkan berulang-ulang oleh massa sambil mengangkat tangan kanan yang mengepal. Ketika hendak membuka pidato singkatnya, agar massa tenang dan mendengar, barulah Sukarno berseru: “Diam! Diam!”
“Saudara-saudara sekalian. Alhamdulillah saya ucapkan di hadirat Allah subhanahu wa ta’ala. Ini hari aku telah menginjak lagi bumi Jakarta. Sesudah hampir empat tahun lamanya saya tidak bersua dengan saudara-saudara,” kata Sukarno dan rakyat bersorak. Mereka tak hanya di lapangan terbuka. Ada yang naik ke atas pohon atau di atap mobil.
“Empat kali 365 hari saya berpisah dengan rakyat Jakarta laksana rasanya seperti berpisah 40 tahun, saudara-saudara,” lanjut Sukarno, dan lagi-lagi disambut sorak riuh.
