SEHARI setelah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia, Soekarno kembali ke Jakarta setelah empat tahun diungsikan ke Yogyakarta. Dengan menumpang pesawat Dakota milik Garuda Indonesia Airways, Soekarno tiba di Kemayoran pada 28 Desember 1949 pagi. Pesawat Dakota milik Garuda Indonesia Airway yang ditunggu-tunggu akhirnya mendarat di Bandara Kemayoran.
https://twitter.com/VideoSejarah/status/946205943443816448?s=20
Banyak orang yang menanti kedatangan pesawat itu. Di antara yang menunggu adalah Sri Sultan Hamengkubowono IX, Gubernur Militer Jakarta Letnan Kolonel Daan Yahya, dan Wakil Kepala Staf Angkatan Perang Kolonel Tahi Bonar Simatupang. Dua orang gadis pembawa karangan bunga berdiri tak jauh dari mereka. Kerumunan massa yang jauh lebih besar menanti di sekitar ruang tunggu.
Sesekali Sri Sultan terlihat melongokkan wajahnya ke arah angkasa untuk melihat pesawat yang bakal mendarat itu. Sri Sultan sudah beberapa hari di Jakarta. Sehari sebelumnya, pada 27 Desember 1949, dia menandatangani pengakuan kedaulatan sebagai wakil pihak Indonesia. Dari pihak Belanda diwakili A.H.J. Lovink yang menjabat Wakil Mahkota Belanda di Indonesia.
Baca Juga:Benazir Bhutto, Perempuan Pertama Memimpin Negara Muslim Tewas Dibunuh27 Desember 537 Hagia Sophia Selesai Dibangun
Hari itu juga, 27 Desember 1949, setelah penandatanganan pengakuan kedaulatan, diadakan upacara penurunan bendera merah-putih-biru dan dinaikkannya sang dwi warna merah-putih. Pada senja yang bersejarah itu, massa rakyat di luar istana menyemut untuk menyaksikannya.
Mereka bersorak: ”Merdeka! Merdeka!”
Sudah lama Presiden Sukarno tak menginjakkan kaki dengan damai di Jakarta. Karena, pada awal Januari 1946, dengan kereta istimewa, ia bersama Hatta diungsikan ke Yogyakarta dengan sembunyi-sembunyi.
Sejak saat itu hingga akhir Desember 1949, Sukarno-Hatta harus mengungsi ke Yogyakarta. Diselingi pembuangan ke beberapa tempat pasca Agresi Militer II yang berlangsung pada Desember 1948.
Sukarno-Hatta, juga pemerintahan Indonesia, harus mengungsi karena Jakarta sudah tidak kondusif lagi sebagai ibukota. Ketika itu kota Jakarta jauh dari ukuran aman. Jakarta dipenuhi banyak serdadu-serdadu ganas Belanda. Gedung-gedung vital, dan sempat menjadi kantor-kantor pemerintah, sudah diduduki lagi oleh Belanda.
Ya, Belanda masih merasa berhak berkuasa di Jakarta, juga di Hindia Belanda—nama lama Indonesia. Bagi Belanda, Indonesia itu tidak ada. Proklamasi 17 Agustus 1945, bagi mereka, hanyalah akal-akalan Jepang. Setelah Perang Dunia II, Belanda kembali ke Jawa dengan niat tunggal: melanjutkan kembali kolonialisme.
