Menumpang Dakota, Bung Karno Kembali ke Jakarta

Presiden Sukarno disambut rakyat Jakarta setibanya dari pengasingan. Foto: repro buku IPPHOS.
Presiden Sukarno disambut rakyat Jakarta setibanya dari pengasingan. Foto: repro buku IPPHOS.
0 Komentar

“Kepada pegawai, kepada saudara-saudara Marhaen, saudara-saudaraku tukang becak, saudara-saudaraku tukang sayur, saudara-saudaraku pegawai yang sekecil-kecilnya, tidak ada satu yang terkecuali. Semuanya, saudara-saudara, saya sampaikan salamku kepada saudara-saudara sekalian… Alhamdulillah. Sekarang di halaman ini telah berkibar Sang Dwi Warna,” puji syukur Sukarno yang disambut lagi dengan riuh massa.

Pekikan “merdeka” yang terus berulang-ulang dalam penyambutan Sukarno, menurut Alwi Shahab dalam Saudagar Bagdhad Dari Betawi (2004), membuat gedung yang dibangun sejak 1869-1879 akhirnya disebut Istana Merdeka.

Sementara menurut Adolf Heuken dalam Medan Merdeka, Jantung Ibukota RI (2008), “Nama Istana Merdeka didapat dari pekikan rakyat: Merdeka, waktu upacara penurunan bendera Belanda, yang diganti dengan bendera Indonesia Merah Putih, pada 27 Desember 1949.”

Baca Juga:Benazir Bhutto, Perempuan Pertama Memimpin Negara Muslim Tewas Dibunuh27 Desember 537 Hagia Sophia Selesai Dibangun

Menurut presidenri.go.id, pekikan merdeka memang setidaknya sudah disorakkan ketika bendera merah-putih berkibar di depan Istana pada 27 Desember. Esoknya, 28 Desember, kata “merdeka” jelas berkali-kali dipekikkan lagi oleh suara yang jauh lebih ramai. Ketika itu, sebagian rakyat Indonesia menyebut Istana itu sebagai Istana Gambir.

Pada 28 Desember 1949 inilah, Sukarno mulai menyebut Istana Gambir sebagai Istana Merdeka. Hari itu pula, Presiden dan keluarganya langsung mendiami Istana Merdeka untuk pertama kalinya.

“Sukarno memakai sebuah ruang di sisi timur Istana Merdeka sebagai kamar tidurnya. Ruang tidur itu berseberangan dengan ruang kerjanya dan dipisahkan oleh bangsal luas yang dikenal sebagai Ruang Resepsi,” tulis presidenri.go.id. “Sisi barat depan Istana Merdeka dipergunakan bagi kegiatan-kegiatan resmi.”

Di masa Sukarno, jika presiden sedang di Istana, sebuah bendera kuning dengan bintang emas dikibarkan di atas istana. Di masa Soeharto hal ini tidak dilakukan lagi. Soeharto sendiri tidak tinggal di Istana ketika menjadi Presiden. (*)

0 Komentar