Jangka Sabda Palon: Ramalan Kehancuran Islam di Tanah Jawa?

Sabdapalon di cetha
Penggambaran Sabdapalon sebagai arca di Candi Cetha. Arca ini bukan benda asli tetapi tambahan pada saat "pemugaran" atas Candi Cetha dilakukan. (Wikipedia)
0 Komentar

Noorsena menggambarkan bahwa Serat Jangka Jayabaya Sabda Palon ini merupakan salah satu gambaran bahwa Penolakan manusia Jawa yang direpresentasikan oleh tokoh Sabda Palon terhadap ajaran Islam karena agama ini dianggap memiliki corak keagamaan yang politis dan doktriner.[2] Selanjutnya, Noorsena membuat pernyataan bahwa Islam di Jawa pun pada akhirnya mengalami asimilasi dengan keyakinan agama terdahulu. Tentu saja, statemen Bambang Noorsena ini juga lahir dari membebek pendapat yang berkembang belaka, bukan didasarkan pada pengkajian secara langsung terhadap materi yang dibahasnya.

Lebih jauh, sangat dimungkinkan Bambang Noorsena tidak membaca secara tuntas buku yang digunakan sebagai referensinya, termasuk Serat Jangka Sabda Palon. Perlu diketahui buku Bambang Noorsena ini seringkali menggunakan “Teori Pengaruh” yang tidak terstruktur dengan baik. Kelemahan paling umum yang sering dilakukan oleh penghasung teori pengaruh ialah kecenderungan membuat generalisasi secara terburu-buru, penarikan kesimpulan berdasarkan data yang belum lengkap, memaksakan data yang sebenarnya tidak relevan, dan pengamatannya hanya bersifat parsial.

Klaim dan Kesalahpahaman

Isu tentang agama “pengganti Islam” di Jawa sempat menguat dalam Seminar Kebathinan Indonesia I pada 14-15 Nopember 1959 di Jakarta. Ketua Umum badan Kongres Kebathinan Indonesia (BKKI), Mr. Wongsonegoro, dalam pendahuluan seminar melontarkan isu tentang visi nubuatan sumpah Sabda Palon terhadap Prabu Brawijaya. Di antara isi sumpah itu, bahwa 500 tahun kemudian  akan berkembang biak gerakan kebatinan di Tanah Jawa.[3] Dapat dikatakan bahwa kaum kebatinan yang ikut terlibat dalam kongres tersebut telah memanfaatkan Serat Jangka Sabdo Palon dengan membuat klaim bahwa ajaran “pengganti Islam” yang dimaksud dalam Jangka Sabda Palon adalah “Kebatinan”. Hal ini merupakan klaim pertama terkait penafsiran Jangka Sabda Palon.

Baca Juga:Dianggap ‘Pegawai Negeri Buruk’, Walikota Ini Diikat di PohonSudah Lama Tak Muncul, Kemana Ibu Negara Iriana Joko Widodo?

Sedangkan klaim kedua terdapat dalam Serat Darmagandul yang baru ditulis pada 16 Desember 1900 M menyatakan bahwa berakhirnya Agama Islam di tanah Jawa akan digantikan oleh ajaran Kristen. Salah satu bagian dari isi Serat Darmagandul juga menceritakan tentang adanya Jangka Sabda Palon. Dalam Serat Darmagandul ini digambarkan bahwa Prabu Brawijaya yang telah di-Islamkan oleh Sunan Kalijaga, kemudian meminta kepada Sabda Palon, abdinya, agar mengikuti agama barunya. Sabda Palon menolak ajakan Prabu Brawijaya, tuannya. Bahkan diceritakan Sabda Palon lantas mengeluarkan kutukan bahwa akan banyak orang Jawa yang meninggalkan Islam dan berganti dengan agama kawruh.[4]

0 Komentar