Dengan keterangan tersebut, tokoh Sabda Palon dan Noyo Genggong yang hidup dalam cerita rakyat justru merupakan penganut ajaran Islam. Sehingga setelah wafatnya disemayamkan dalam pemakaman Islam pula. Meskipun demikian Cerita tentang keberadaan nama Sabda Palon dan Noyo Genggong di situs Troloyo ini hanya didasarkan kepada tradisi lesan yang berkembang pada masyarakat di sekitar situs itu saja. Kebenarannya sudah tentu sukar diverifikasi. Namun tidak diragukan lagi bahwa cerita-cerita babad yang saat ini beredar, umumnya banyak yang menggali ide ceritanya dari tradisi lesan yang berkembang di suatu masyarakat tertentu. Kemudian tradisi lesan yang ada, diberi muatan nilai baru dan dimodifikasi sesuai pesan yang hendak disampaikan sehingga muncullah mitos tersebut.
Kritik Atas Pemahaman
Sebagai sebuah jangka yang dinyatakan memiliki visi ramalan, Jangka Sabda Palon bukannya tanpa kritik. Perlu dimengerti bahwa memahami Jangka Sabda Palon sebagai sebuah “ramalan” sebenarnya lebih banyak ditentukan oleh sebuah pola cara pandang. Bagi seseorang yang menyukai klenik, dengan menghubung-hubungkan Jangka Jayabaya dengan sebuah kepentingan tertentu maka bisa saja didapatkan kesimpulan bahwa jangka ini telah m”meramalkan sesuatu”.
Namun dengan cara demikian jelas banyak kelemahan yang akan ditemui. Sebut saja misalnya Jangka Jayabaya menyebutkan bahwa pada masa berlakunya “ramalan” maka akan terjai sebuah jaman yang paling menyengsarakan penduduk Tanah Jawa. Masa yang dimaksud ditandai dengan sengkalan sebagai “Lawon Sapta Ngesthi Aji”. Jika diterjemahkan ke dalam bentuk angka maka sengkalan tersebut akan menunjukkan tahun 1877 tahun Jawa. Hal ini ditunjukkan dalam Jangka Sabda Palon sebagai berikut:
Baca Juga:Dianggap ‘Pegawai Negeri Buruk’, Walikota Ini Diikat di PohonSudah Lama Tak Muncul, Kemana Ibu Negara Iriana Joko Widodo?
Sanget-sangeting sangsara, kang tuwuh ing tanah Jawi, sinengkalan tahunira, Lawon sapta Ngesthi Aji, upami nyabrang kali, prapteng tengah-tengahipun, kaline banjir bandhang, jerone nglelebne jalmi, kathah manungsa prapteng pralaya
(Waktu paling sengsara yang terjadi di tanah Jawa terjadi pada sengkalan tahun Lawon Sapta Ngesthi Aji. Umpama menyeberang sungai setelah sampai di tengah-tengah, sungainya banjir besar, kedalamannya menenggelamkan manusia, banyak manusia yang tewas)
Pemaknaan atas isi Jangka Sabda Palon tersebut sudah tentu bisa bermacam-macam tergantung cara pandang yang dimiliki penafsirnya. Tradisi Jawa sendiri tidak memiliki metodologi yang jelas dalam berinteraksi dengan bentuk-bentuk teks semacam ini. Salah satu cara pandang yang bisa dikemukakan adalah dengan melihat peristiwa apa saja yang terjadi pada tahun Jawa tersebut. Angka tahun 1877 tahun Jawa jika dikonversi ke dalam penanggalan masehi maka akan didapatkan angka tahun 1945 atau 1946 M.[11] Jika angka tahun tersebut dihubungkan dengan “kesengsaraan yang terjadi di tanah Jawa” maka akan didapatkan hasil yang membingungkan. Sebab diketahui bersama bahwa pada tahun 1945-1946 ini bangsa Indonesia termasuk penduduk tanah Jawa sedang berada dalam suasana kegembiraan karena “ Atas berkat rahmat Allah yang maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur … maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”[12] Tentu saja hal ini bisa ditafsirkan dengan cara yang lain dimana bentuk-bentuk penafsiran tersebut tidak dapat dibatasi dengan satu cara pandang saja. Dengan demikian klaim-klaim terkait penafsirannya bisa saja tidak sepi dari motif dan kepentingan.
