“Wong Djawa ganti agama, akeh tinggal agama Islam bendjing, aganti agama kawruh …”
(Orang Jawa ganti agama, akeh tinggal agama Islam besok, berganti agama kawruh …)
Ada pun yang dimaksud dengan agama kawruh dalam Serat Darmagandul tersebut, tidak lain adalah Kristen. Pendapat ini sejalan dengan hasil tulisan dua orang akademisi dan orientalis Belanda yaitu G. W. J. Drewes[5] dan Philip van Akkeren.[6] Hal ini dapat dilihat dari isi Serat Darmagandul, salah satunya adalah sebagai berikut:
Baca Juga:Dianggap ‘Pegawai Negeri Buruk’, Walikota Ini Diikat di PohonSudah Lama Tak Muncul, Kemana Ibu Negara Iriana Joko Widodo?
Lamun seneng bukti, woh wit kadjeng kawruh, Anyebuta asmane Djeng Nabi, Isa kang kinaot, mituruta Gusti agamane,[7]
(Jika suka dengan bukti, buah pohon kayu pengetahuan, (Maka) sebutlah nama beliau Nabi Isa yang termuat, turutilah agamanya, )
Perlu diketahui bahwa cerita Sabda Palon dalam Serat Darmagandul tersebut telah mengambil ide cerita sepenuhnya dari Serat Babad Kadhiri yang ditulis pada 1832 M. Namun demikian terkait dengan “kutukan” bernuansa ramalan dari Sabda Palon bahwa agama Kawruh akan menggantikan ajaran Islam merupakan inisiatif penulis Darmagandul sendiri. Jadi hal ini murni pemikiran pengarang Serat Darmagandul. Harus dipahami bahwa keseluruhan isi Serat Darmagandul memang lebih tepat dikatakan sebagai hasil dari “plagiasi” dari Serat Babad Kadhiri, kecuali pada tema-tema tentang Kristen dan pelecehan terhadap Islam. Serat Darmagandul ini merupakan karya seorang Kristen yang sedang menjalankan proyek orientalisme pada masa penjajahan Belanda.[8]
Dengan demikian telah kita dapatkan dua klaim penafsiran atas substansi dari Jangka Sabda Palon. Di satu pihak, kalangan kebatinan menganggap bahwa Jangka Sabda Palon merupakan visi ke depan tentang eksistensi ajaran kebatinan. Di lain pihak jangka tersebut ditafsirkan sebagai nubuatan “kedatangan” Kristen di Jawa. Kedua penafsiran ini jelas tidak lepas dari motif dan kepentingan masing-masing.
Selain kedua penafsiran di atas, jika Jangka Sabda Palon dimaknai secara tekstual maka akan ditemukan adanya cita-cita menghidupkan Agama Budha kembali. Hal ini dapat dilihat dalam jangka yang bercerita tentang dialog antara Sabda Palon dan Prabu Brawijaya sebagai berikut:
