Jangka Sabda Palon: Ramalan Kehancuran Islam di Tanah Jawa?

Sabdapalon di cetha
Penggambaran Sabdapalon sebagai arca di Candi Cetha. Arca ini bukan benda asli tetapi tambahan pada saat "pemugaran" atas Candi Cetha dilakukan. (Wikipedia)
0 Komentar

Sampurnakna agamane, yeku agama Rasul, Islam kang sejati … Ngelingana he pra umat sami, yen sira tan ngetut kersaning wang, yekti abot panandhange, ingsun pikukuhipun, nuswantara ing saindenging, …[17]

Dengan demikian anggapan bahwa Jangka Sabda Palon merupakan karya sastra yang memperkuat mitos bahwa Islam akan lenyap dari bumi Jawa terbukti tidak benar. Jangka Sabda Palon justru berbicara sebaliknya bahwa Islam akan sampai kepada pemurnian ajarannya dimana Sabda Palon sendiri berkehendak memeluk agama tersebut. Hal demikian memang sulit dipahami, sebab banyak bahasa simbol yang digunakan dalam kitab tersebut.

Kesalahan penafsiran terhadap jangka Sabda Palon, sebagai “nubuatan” Kristen, Budha, maupun kebatinan lebih banyak didasarkan kepada kepentingan tertentu. Juga disebabkan kurang teliti menganalisa Jangka tersebut.

Penutup

Baca Juga:Dianggap ‘Pegawai Negeri Buruk’, Walikota Ini Diikat di PohonSudah Lama Tak Muncul, Kemana Ibu Negara Iriana Joko Widodo?

Lepas dari semua pembahasan di atas, Serat Jangka Jayabaya Sabda Palon hanya merupakan sebuah karya sastra belaka. Kisah-kisah yang ada di dalamnya juga tidak bisa digunakan sebagai sumber bagi kajian sejarah. Beberapa pembahasan yang dihadirkan di dalamnya banyak disemangati oleh nilai-nilai tasawuf. Meskipun demikian juga tidak dalam segala hal harus diterima sebagai karya yang Islami. Juga tidak bisa diremehkan sebagai buku yang ala kadarnya. Hanya saja mungkin, dengan menjernihkan kesalahpahaman ini maka akan tercipta sebuah dinamisasi dialogis yang lebih baik bagi Islam di Jawa.

Serat Jangka Jayabaya Sabda Palon bukan merupakan karya yang harus dikategorikan sebagai karya sastra yang mengambil sikap menetang hukum syariat (murang syarak). Melainkan karya yang mampu menjembatani “kebuntuan” dan kebekuan relasi dialogis yang telah mengungkung selama sekian waktu akibat kurang mendalamnya perhatian di antara kita. Perlu diketahui naskah-naskah berbahasa Jawa yang memperlihatkan sikap murang syarak, secara nominal sebenarnya hanya minoritas saja, sekedar “suara pinggiran”. Hal itupun kadang tidak lepas dari pengaruh “negatif” masa Penjajahan Belanda, tercipta dari kaum yang telah terbeli tekadnya. Hanya saja jumlah yang hanya sedikit dibandingkan karya-karya yang memberikan apresiasi positif terhadap Islam ini, seringkali diangkat secara besar-besaran, sehingga kesannya apresiasi yang terakhir ini mewakili wajah Jawa. Oleh karena itu kewaspadaan hendaknya menjadi bagian dari kesadaran umat seluruhnya di Jawa.

0 Komentar