Jangka Sabda Palon: Ramalan Kehancuran Islam di Tanah Jawa?

Sabdapalon di cetha
Penggambaran Sabdapalon sebagai arca di Candi Cetha. Arca ini bukan benda asli tetapi tambahan pada saat "pemugaran" atas Candi Cetha dilakukan. (Wikipedia)
0 Komentar

Klawan Paduka sang Nata, wangsul maring sunya ruri, mung kula matur petungna, ing benjang sak pungkur mami, yen wus prapta kang wanci, jangkep gangsal atus tahun, wit ing dinten punika, kula gantos kang agami, gama Buda kula sebar tanah Jawa”.[9]

(Adapun paduka Sang raja, kembali ke alam baka, hanya saja saya meminta anda memperhitungkan bahwa sepeninggal saya, jika sudah tiba waktunya, genap lima ratus tahun, mulai hari itu, akan saya ganti agama (Islam), agama Budha akan saya sebar di tanah Jawa).

Penafsiran bahwa Jangka Sabda Palon merupakan justifikasi bagi munculnya kembali ajaran Budha maupun kelahiran  kebatinan, umumnya lebih banyak dianut oleh sejumlah kalangan di Jawa. Namun dimaksud oleh pengarang tentu adalah sesuatu yang sama sekali berbeda. Maksudnya, dalam hal ini tidak secara harfiah sebagaimana istilah yang digunakan “agama Budha”. Sebab tujuan akhir sang pengarang Serat Jangka Sabda Palon ternyata adalah sebuah proses untuk “menerima” Islam.

Eksistensi Sabda Palon

Baca Juga:Dianggap ‘Pegawai Negeri Buruk’, Walikota Ini Diikat di PohonSudah Lama Tak Muncul, Kemana Ibu Negara Iriana Joko Widodo?

Jika kita telusur lebih jauh, cerita nubuatan semacam sumpah Sabda Palon tidak lebih sekedar sebagai karya sastra saja. Karya ini menggunakan cerita rakyat yang telah banyak beredar di masyarakat. Dalam tradisi oral yang berkembang di sekitar Trowulan, sebuah wilayah yang diyakini sebagai salah satu situs Majapahit, tokoh Sabda Palon dan Naya Genggong merupakan tokoh yang diyakini hidup pada masa Majapahit dan memiliki pekerjaan sebagai abdi dalem Keraton. Cerita-cerita babad kemudian memanfaatkan tradisi lesan yang berkembang ini, dengan meminjam nama Sabda Palon dan Naya Genggong, kemudian memberi peran baru kepada kedua tokoh ini, dan pada giliran selanjutnya diangkat dari derajadnya yang tidak lebih dari abdi dalem biasa menjadi “danyang” Tanah Jawa. Dengan demikian tradisi oral tentang cerita Sabda Palon dan Noyo Genggong telah memiliki nilai baru dan menjadi mitologi. Proses demikian adalah hal biasa terjadi mengingat adanya sejumlah kepentingan yang bermain.

Kenyataannya dalam tradisi lesan yang berkembang di Trowulan, tokoh Sabda Palon dan Noyo Genggong bukan merupakan sosok yang anti Islam. Sabda Palon dan Noyo Genggong yang hidup dalam tradisi oral masyarakat adalah dua orang abdi Majapahit yang telah memeluk agama Islam. Hal ini sudah tentu berbeda dengan sejumlah kisah babad yang menempatkan keduanya sebagai sosok mitologis. Berdasarkan keterangan resmi Pusat Informasi Majapahit (Museum Trowulan), kedua tokoh tersebut merupakan dua di antara 7 (tujuh) dari nama orang yang dimakamkan di situs makam Troloyo yang terletak di Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan. Perlu diketahui bahwa ketujuh makam di situs Troloyo tersebut merupakan makam abdi dalem Majapahit yang telah memeluk agama Islam.[10]

0 Komentar