Pada 2017, tercatat ada 125 juta hashtag yang digunakan setiap harinya. Di 2018, salah satu hashtag yang ramai dalam konteks sikap sebuah kelompok adalah #DiaSibukKerja dan #2019gantipresiden. Hashtag yang merepresentasikan perbedaan dukungan, antara Presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto.
Di dunia nyata, gesekan antara dua kelompok yang berbeda bisa terjadi karena gagasan dari sebuah hashtag yang berubah menjadi simbol dari sikap. Sekelompok orang berkaos #2019GantiPresiden melakukan tindakan intimidasi terhadap beberapa orang di kawasan Car Free Day (CFD), Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, sekitar pukul 9.15, Minggu (29/4). Kejadian yang banyak menjadi sorotan ini menggambarkan hashtag telah jadi simbol jargon-jargon politik pada kaos.
Di ranah maya, melalui Tweet Reach, layanan analisis Twitter, terjadi pertarungan yang berimbang antara dua hashtag tersebut. Pada 30 April 2018 antara pukul 7.30 hingga 8.00, hashtag #DiaSibukKerja telah menyebar pada 93.644 akun Twitter, hashtag tersebut sudah dilihat 122.771 kali. Sementara itu, #2019gantipresiden, diukur dengan kerangka waktu yang sama, telah menjangkau 96.054 akun Twitter. #2019gantipresiden tercatat sudah dilihat 114.917 kali.
Baca Juga:Akar Pohon Raga Sakti di Kramat Cimandung Berbentuk Seperti Ular, Mirip Pohon Harry PotterKecelakaan Hari Ini di Pantura Tegalgubug, Jangan Lupa Sejarah Desanya Gaes
Kedua hashtag tersebut hampir memiliki nilai keterjangkauan yang sama. Namun, dilihat melalui Tweet Reach keduanya memiliki pondasi yang berbeda. Hashtag #DiaSibukKerja mayoritas, dengan persentase sebanyak 49 persen, dikicaukan oleh akun-akun Twitter yang memiliki jumlah pengikut kurang dari 1.000. Sementara itu, hashtag #2019gantipresiden secara umum lebih banyak, dengan persentase sebesar 42 persen, dikicaukan oleh akun-akun yang memiliki pengikut kurang dari 100.
Gerbaudo, masih dalam bukunya, mengatakan bahwa tak selamanya hashtag, berkorelasi dengan gerakan sosial. Perlu sesuatu yang mengarah pada keberpihakan dan spontanitas yang umumnya akan menuntun simbol digital jadi sikap di dunia nyata.
Chris Messina, advokat spesialis di bidang open source, merupakan sosok pencetus ide hashtag pada Twitter. Messina, dalam wawancaranya pada Wired, mengatakan bahwa tercetusnya ide hashtag salah satunya dipengaruhi oleh banyaknya pengguna Twitter di San Fransisco yang merasa bingung bagaimana mengikuti suatu kisah dengan tema tertentu di media sosial tersebut.
“Kala itu tidak ada cara mengatur tweet yang memungkinkan penggunanya tahu apa yang harus diperhatikan dan apa yang harus diabaikan,” kata Messina.
