Tak Bisa Berbuat Apa-apa, Sultan Sepuh Cirebon Mengundurkan Diri

31 0
0 Komentar

CARUBAN NAGARI-Kesultanan Kasepuhan Cirebon memulai dasawarsa terakhir abad ke-18 itu dengan pergantian kepemimpinan. Pada tahun 1791, Sultan Tajul Ngaripin Muhammad Joharidin naik takhta sebagai Sultan Sepuh VII.

Ketika itu, ia masih berumur 10 tahun. Oleh karena itulah, dalam pengelolaan kesultanan, ia harus terlebih dahulu didampingi oleh dua tumenggung, yakni Tumenggung Wijaya Hadhiningrat dan Tumenggung Jayadhireja, dikutip dari Soedjarah Babad Negri Cheribon (Plt 40 Peti 121; Koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia) hal. 107.

Sultan Sepuh VII memerintah selama 25 tahun. Ia menyaksikan banyak sekali peristiwa, mulai dari skala lokal hingga internasional. Di awal-awal pemerintahan, Sultan Sepuh VII harus sudah berhadapan dengan pemberontakan rakyat yang berdurasi panjang hingga dekade kedua abad ke-19.

Baca Juga:Selamat Malam, Beredar Kembali Foto Penampakan Sosok Menakutkan, Terbang Bersama Organ Tubuhnya?Pasca Ambles, Angkutan Berat Dilarang Lintasi Jembatan Rembun Hingga Bulan Maret

Selama memerintah, ia pun berurusan dengan lima gubernur jenderal dan satu letnan gubernur. Ketika Daendels berkuasa, Sultan Sepuh VII Cirebon mengaku tak kuat menanggung beban dari kebijakan lalim yang diterapkan,tetapi tak bisa berbuat apa-apa.

Wajar jika ia merasa gembira ketika Tengku Pangeran Siak menyampaikan surat Thomas Stamford Raffles ihwal rencana Inggris merebut Jawa. Dilansir dari Jumantara Vol. 8 No.1 Tahun 2017 terungkap surat Sultan Sepuh VII Cirebon untuk Raffles yang ditulis pada tanggal 25 Rabiul Awal Tahun Alip 1739 (8 April 1812).

Surat yang ditulis dengan menggunakan aksara Jawa itu menarik perhatian. Di dalamnya, terkandung informasi mengenai kerelaan Sultan Sepuh VII Cirebon untuk dipensiunkan dari jabatan publik.

Punika sěrat saking Sultan Carbon Wědhrah ingkang (Inilah surat dari Sultan Sepuh Cirebon. Dengan segala hormat)

sarta sadhayaning hurmat, ingkang muga konjuking padha dhalěm tuwan ingkang agěng, Thomas Stamford Raffles. Kula botěn sěnés dhumatěnging sapasintěn ingkang kaajěng-ajěng kalayan manah ingkang bresih sarta manah ingkang lěrěs. Angajěng- ajěnging karaharjanipun sarta kapěnědhan, kénging awontěn ing bawah préntah sampéyanwontěn ing Nagari Jawi puniki. Kalayan malih, mugiya angsal saking parmaning Allah, yén ing salěnggah sampéyan juměněng ingkang sarta sadhayaning suka pirěnaning manah ing sapaos-paosipun.

0 Komentar