Misal dalam Catatan Tahunan Melayu ini disebut Laksamana Sam Po Bo, nama lain dari Cheng Ho, tinggal sebulan di Semarang. Tapi Catatan Ma Huan, juru tulis Cheng Ho tak pernah menyebutkan berlabuh di Semarang.
Begitu juga dalam naskah itu disebut Sam Po Bo meninggal tahun 1431. Padahal antara tahun 1432-1433 dia masih memimpin ekspedisi di negeri-negeri Nan Yang alias Asia Tenggara.
Catatan Tahunan Melayu itu ditulis dengan model periode tahun kemudian diterangkan peristiwa yang terjadi. Misal, dalam pembukaan ditulis periode 1368-1645. Di Tiongkok memerintah Ming dynasty yang sangat banyak menggunakan official orang-orang Tionghoa/Islam/Hanafi dari Yunnan.
Baca Juga:Diduga dari Abad ke-7, Masjid Tertua di Dunia Ditemukan di IsraelSesalkan Tindakan Kelompok Manapun, MUI: Tuduhan Radikalisme Terhadap Din Syamsuddin Fitnah Keji
1405-1425 Armada Tiongkok/Ming Dynasty di bawah Laksamana Haji Sam Po Bo menguasai perairan Nan Yang. (Asia Tenggara).
Inti dari penulisan naskah ini menceritakan pengaruh Kekaisaran Dinasti Ming dengan kehidupan sosial politik di era akhir Majapahit dan lahirnya Kerajaan Demak. Laksamana Sam Po Bo dan orang-orangnya punya peran dominan membangun Jawa di era itu.
Naskah ini menarik minat sejarawan karena ada detail peristiwa dan tokoh pejabat Cina di lingkungan Istana Majapahit yang tidak diceritakan dalam sumber lain. Inilah sensasi naskah Parlindungan ini.
Diceritakan, Laksamana Haji Sam Po Bo  atau Cheng Ho pada tahun 1407 memimpin armada Tiongkok Dinasti Ming merebut Kukang (Palembang) di Sumatra. Kukang disebut tempat komunitas Cina dari Hokian yang orang-orangnya menjadi perampok. Para perampok ini dihukum mati. Lalu Sam Po Bo menempatkan muslim dari Yunnan mazhab Hanafi membangun Kukang.
Komunitas Cina muslim kemudian dibangun di Sambas, Malaya, Jawa, dan Filipina. Di Jawa didirikan masjid di Ancol Jakarta, Sembung Cirebon, Lasem, Tuban, Tse Tun/Gresik, Jiao Tung/Joratan, Cang Ki/Mojokerto, Ini periode 1411-1416.
Tahun 1413 Armada Tiongkok singgah satu bulan di Semarang untuk perbaikan kapal. Di kota ini Laksamana Haji Sam Po Bo, Haji Ma Hwang, dan Haji Fe Tsin shalat di Masjid Tionghoa Hanafi. Masjid ini sekarang menjadi Kelenteng Sam Po Kong Semarang. Bekas mihrab masjid masih ada di kelenteng ini.
