Selat Sunda-Laut Jawa Kuburan Kapal Perang Dunia II, Hilang atau Sudah Dijual?

image 20170222 20321 585fpu
Galeri Barang Muatan Kapal Tenggelam di Kementerian Kelautan dan Perikanan di Jakarta menampilkan ribuan harta karun dari tiga lokasi bersejarah – Pulau Buaya di Nusa Tenggara Timur; Batu Hitam di Bangka Belitung; dan Cirebon di Jawa Barat. (Kementerian Kelautan dan Perikanan)
0 Komentar

Kelompok-kelompok advokasi di Australia telah lama meminta pemerintah Australia untuk melindungi HMAS Perth. Baru-baru ini pemindaian sonar mengonfirmasi bahwa USS Houston tetap utuh, tetapi hal yang sama tidak bisa dipastikan untuk HMAS Perth. Terlepas dari operasi-operasi penyelaman oleh penyelam Australia dan Indonesia, beberapa orang merasa penyelamatan sudah terlambat bagi HMAS Perth.

Tinggalan kapal angkatan laut sama dengan sejumlah besar besi tua yang menawarkan potensi besar untuk dijual. Jumlah raksasa dari besi tua sebuah kapal bisa bernilai hingga Rp10 miliar. Baling-baling perunggunya saja bisa berharga ratusan juta rupiah satunya.

Kecil kemungkinan pengangkatan kapal dilakukan tanpa diketahui orang lain sama sekali. Kapal karam di Laut Jawa berada di dekat salah satu pangkalan angkatan laut terbesar di Surabaya, maka kegiatan mencurigakan—apalagi dampak lingkungan yang kelihatan seperti tumpahan minyak—kecil kemungkinan bisa lewat begitu saja tanpa ketahuan oleh kapal patroli yang lewat.

Baca Juga:Cirebon Harusnya Kaya, Harta Karun dari Kapal Karam di Perairannya Tahun 2017 Capai US$18 Juta atau Setara Rp239,4 MiliarLuhut Binsar Pandjaitan: Kita Takut Megathrust, bisa saja Terjadi di Pantai Barat dari Sumatera, Pantai Selatan Jawa

Mengangkat tinggalan kapal dari dasar laut membutuhkan waktu, keahlian, dan uang. Operasi pengangkatan di Asia Tenggara juga tampaknya telah semakin canggih.

Di negara lain di wilayah Asia Tenggara kapal-kapal yang menyamar sebagai kapal ikan digunakan untuk mengangkat tinggalan. Tetapi percakapan saya dengan orang-orang yang paham masalah ini mengindikasikan bahwa kapal karam di Laut Jawa kemungkinan besar diangkat menggunakan alat besar yang disebut sebagai “claw barge” atau tongkang bercakar. Dengan alat ini, jumlah penyelam yang dibutuhkan bisa dikurangi, dan, jika dioperasikan bersama dengan peralatan pencitraan khusus seperti pemindai sonar, maka pengangkatan akan sangat efisien. Orang-orang yang paham masalah ini juga menduga kru dari tongkang ini bersenjata.

Para penambang tidak menimbang aspek sejarah dan arkeologis yang signifikan dari kapal karam ini.

Pengangkatan baling-baling dan trompet adalah satu masalah. Tetapi penodaan kuburan perang jelas-jelas merupakan aspek yang paling memprihatinkan dari kisah ini.

Keberadaan jasad manusia di kapal karam tidak menghentikan para penambang tidak sah dari kegiatan jahat mereka. Namun demikian, status hukum dari kuburan perang di bawah air memang masih ambigu.

0 Komentar