Selat Sunda-Laut Jawa Kuburan Kapal Perang Dunia II, Hilang atau Sudah Dijual?

image 20170222 20321 585fpu
Galeri Barang Muatan Kapal Tenggelam di Kementerian Kelautan dan Perikanan di Jakarta menampilkan ribuan harta karun dari tiga lokasi bersejarah – Pulau Buaya di Nusa Tenggara Timur; Batu Hitam di Bangka Belitung; dan Cirebon di Jawa Barat. (Kementerian Kelautan dan Perikanan)
0 Komentar

CARUBAN NAGARI-Tujuh puluh sembilan tahun yang lampau, angkatan laut Australia, Inggris, AS, dan Belanda mengalami kekalahan telak melawan Jepang di selat-selat sempit dan lautan di Indonesia. Tinggalan kapal perang Perang Dunia II yang karam di Laut Jawa dan Selat Sunda adalah persemayaman terakhir dari ribuan pelaut pasukan Sekutu.

Situs-situs ini dianggap sebagai kuburan perang bagi para penyintas dan keturunannya, sesuai dengan tradisi maritim lama yang menghormati jasad manusia di tinggalan kapal.

Maka bisa dipahami, syok dan kekecewaan meliputi para anggota tim internasional yang meneliti kapal karam di Laut Jawa pada November 2016 ketika mereka mendapati paling tidak empat kapal Belanda dan Inggris—dan satu kapal selam Amerika Serikat yang seluruh krunya ditangkap hidup-hidup—hilang dari dasar laut sedalam 70 meter.

Baca Juga:Cirebon Harusnya Kaya, Harta Karun dari Kapal Karam di Perairannya Tahun 2017 Capai US$18 Juta atau Setara Rp239,4 MiliarLuhut Binsar Pandjaitan: Kita Takut Megathrust, bisa saja Terjadi di Pantai Barat dari Sumatera, Pantai Selatan Jawa

Kapal-kapal itu berukuran besar. HMS Exeter, misalnya, adalah “heavy cruiser” berukuran 175 meter, lebih panjang dari tiga kolam ukuran Olympic. Kapal-kapal Sekutu lainnya di perairan Indonesia juga telah rusak.

Bukti mengindikasikan kapal-kapal itu hilang karena dicuri, atau diangkat dari dasar laut, karena besi-besi yang berada di dasar laut bernilai tinggi.

Penodaan tinggalan kapal-kapal di Laut Jawa tidak mengejutkan bagi mereka yang paham dengan kondisi warisan budaya di bawah laut di Indonesia. Tahun lalu, Inside Indonesia melaporkan upaya pencegahan kerusakan untuk dua kapal karam Sekutu lainnya di Indonesia, yaitu: HMAS Perth dan USS Houston di Selat Sunda (lebih tepatnya di Teluk Banten). Kapal angkatan laut ini diserang oleh Jepang pagi buta pada 1 Maret 1942, dan tenggelam bersama dengan ribuan nyawa yang karam bersamanya.

Pada 2013, ada beberapa laporan mengenai tongkang-tongkang yang mengambil potongan-potongan besi dari lokasi-lokasi tersebut. Meskipun pemerintah Indonesia tidak diidentikasi keterlibatannya dalam operasi pengambilan kapal karam, pemerintah dikritik karena tidak melakukan apa-apa untuk melindungi tinggalannya.

Penyelam wisata yang bermaksud baik juga disinggung terlibat. Direktur eksekutif dari Asosiasi Penyintas USS Houston berkomentar tentang pengambilan trompet dari USS Houston, “Kami tidak tahu ada berapa banyak penyelam semacam ini yang mengambil dari kapal kami […] dan menyimpan benda itu untuk kepentingan pribadi mereka, “mencuri” sesuatu yang sesungguhnya bagian dari kenangan abadi dari mereka yang dengan keberanian dan dedikasi berjuang di kapal-kapal perang ini.”

0 Komentar