Tidak ada konsensus internasional berkenaan dengan jasad manusia atau kapal karam, dan tanggung jawabnya ada di negara untuk menyiapkan hal-hal yang diperlukan hingga suatu kuburan perang diakui. Di bawah undang-undang di Indonesia, suatu objek yang lebih tua dari 50 tahun bisa dikatakan sebagai warisan budaya. Tetapi tak ada satu pun tinggalan yang disebut di artikel ini yang telah diresmikan sebagai warisan budaya. Bahkan tak ada satu pun situs bawah laut yang terdaftar sebagai warisan budaya.
Komunitas internasional telah mengutuk hilangnya kapal karam Laut Jawa. Pihak Belanda telah memulai suatu investigasi dan Kementerian Pertahanan Inggris juga telah menyatakan keprihatinan mendalam berkait “gangguan tidak sah terhadap kapal karam yang berisi jasad manusia”, dan meminta pemerintah Indonesia untuk mengambil “tindakan yang tepat”.
Ketika berita tentang hilangnya kapal itu muncul, kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Bambang Budi Utomo, berkata:
Baca Juga:Cirebon Harusnya Kaya, Harta Karun dari Kapal Karam di Perairannya Tahun 2017 Capai US$18 Juta atau Setara Rp239,4 MiliarLuhut Binsar Pandjaitan: Kita Takut Megathrust, bisa saja Terjadi di Pantai Barat dari Sumatera, Pantai Selatan Jawa
Pemerintah Belanda tidak bisa menyalahkan pemerintah Indonesia karena mereka tidak pernah meminta kami untuk melindungi kapal-kapal mereka. Karena tidak ada kesepakatan atau pengumuman, ketika kapal-kapal itu hilang, itu bukan tanggung jawab kami.
Juru bicara Angkatan Laut Indonesia, Kolonel Gig Jonias Mozes Sipasulta, juga memberi pernyataan senada dengan sikap resmi Indonesia, bahwa Belanda, Inggris, dan Amerika Serikat seharusnya bekerja lebih keras untuk melindungi tinggalan kapal karam.
Angkatan Laut Indonesia tidak dapat memantau semua wilayah sepanjang waktu. Kalau mereka bertanya mengapa kapal-kapal itu hilang, saya akan bertanya balik, mengapa mereka tidak menjaga kapal-kapalnya?
Meskipun Indonesia dengan segera menyatakan komitmen untuk membantu penyelidikan atas misteri tinggalan kapal yang hilang, tetapi pesan-pesan yang sebelumnya telah jelas-jelas merusak reputasi Indonesia—yang selama ini juga sudah bermasalah—berkaitan dengan warisan budaya di bawah air.
Daripada bertukar sindiran-sindiran diplomatis, Indonesia dan negara-negara yang memiliki kapal perang itu mestinya bekerja sama. Belakangan, Belanda dan Indonesia telah mengadakan serangkaian pertemuan untuk menginvestigasi penyebab hilangnya kapal karam Belanda.
Peneliti Indonesia dari Pusat Arkeologi Nasional dan peneliti Australia telah meneliti HMAS Perth sejak 2015, menilai kondisi dan kerapuhannya.
