Kisah klasik tentang pangeran dari kerajaan Majapahit atau Mataram yang memilih untuk menjalani laku lelana ternyata tidak berhenti pada sosok Raden Sahid. Cerita Pangeran Sidharta Gautama yang keluar dari kungkungan istana dan memilih mencari makna kehidupan, menggiringnya untuk mengunjungi situs-situs suci agama Hindu. Pada titik pencarian yang sudah puncak, ia mencapai pencerahan; Boddhisatva. Pengetahuan yang paling agung tentang hakikat alam semesta dan kehidupan. Perbedaannya adalah Buddha yang baru menemukan pencerahan tersebut tidak memilih menjadi seperti Sunan Kalijaga dengan pilihan menjadi bandit. Ia memilih untuk menjadi penuntun agama baru yang lambat laun menyebar ke negara-negara Asia Tengah dan Asia Tenggara.
Barangkali, kisah Ki Boncolono dari Kediri menjadi penyanding yang tepat untuk kisah Sunan Kalijaga. Dalam sebuah penelusuran yang susah payah, Quinn melakukan perjalanan untuk menemukan makam Ki Boncolono di Kediri, tepatnya di Bukit Maskumambang. Dekat dengan Goa Selomangleng. Sesampainya di sana, ia menemui juru kunci makam. Diceritakan bahwa Ki Boncolono adalah pencuri yang sakti mandraguna. Ia diperkirakan hidup pada abad ke 17 akhir, di mana pajak hasil bumi sangat memberatkan rakyat. Hal tersebut tidak lain karena pada era tersebut, sistem tanam paksa digencarkan Belanda untuk menutup kas keuangan pasca Perang Jawa. Masih menurut versi cerita rakyat, Ki Boncolono melakukan perampokan dan pencurian terhadap rumah para petinggi Belanda, lalu dibagi-bagikan kepada rakyat Jelata.
Belanda lalu berusaha untuk menangkap pimpinan kelompok bandit ini dengan dibantu pendekar lokal. Kelemahan Ki Boncolono adalah ketika kepala dan anggota badan lainnya terpisah dan tidak menyentuh tanah. Ajian rawarontek yang dimilikinya sungguh ampuh, namun Belanda tidak kalah licik. Ia ditangkap pada satu pertempuran, anggota tubuhnya dipenggal dan dikuburkan di dua tempat yang berbeda. Kepalanya dikuburkan di Ringin Sirah, badannya dikuburkan di Bukit Maskumambang. Legenda tersebut kemudian tersebar hingga diabadikan pada relief Simpang Lima Gumul yang menduplikasi dari Arch du Triomphe di Paris. Ki Boncolono kemudian dikenang sebagai Maling Gentiri, sebuah nama yang juga mengandung kontradiksi.
