Selain menggunakan metode penelititan etnografi, penulis buku ini juga menggunakan sumber-sumber sekunder untuk menjelaskan jejak hidup dan pemikiran para Wali yang ia tulis. Seperti contoh, ia mengutip Suluk Wujil, Het Boek van Bonang, The Admonitions of She Bari yang merupakan salah satu tulisan kolonial tentang tafsir tasawuf wujudiyah dalam keyakinan Sunan Bonang. Penggunaan sumber-sumber sekunder untuk melengkapi wawancara etnografis ini tak lupuk dari beberapa kritik para penulis sejarah yang menyatakan bahwa harus ada kritik historiografi yang digunakan oleh para orientalis dan penulis sejarah kolonial yang menggunakan sumber-sumber kurang otoritatif seperti Babad Kadhiri yang bercerita tentang sejarah tanah Jawa versi Bhuta Locaya (seorang raja jin) yang dipercaya diciptakan pada abad ke 19 di Kediri.
Selain sumber Babad Kadhiri yang kontroversial, Quinn sempat mengutip pula bagaimana kontradiksi sejarah berlangsung dalam narasi Serat Darmagandhul[1] dan Serat Gatholoco[2]. Serat Darmagandul bercerita tentang bagaimana Sunan Bonang digambarkan sebagai orang yang mudah naik pitam dan orang yang menyandang misi untuk membasmi budaya Hindu-Buddha yang masih bercokol kuat di pedalaman pulau Jawa. Dalam sumber tersebut pula, Sunan Bonang menghabisi masyarakat yang tak mau masuk Islam dengan cara menumpahkan air bah dari aliran Sungai Brantas. Konon, aliran Sungai Brantas berubah setelah peristiwa ini.
Dua teks tersebut ditambahi pula dengan teks Babad Kadhiri (Kronik Kediri) yang ditulis pada tahun 1870-an. Pada masa ini, banyak muncul naskah-naskah serat yang menyerang praktik berislam di tanah Jawa sebagai praktik terpengaruh bangsa Atasangin (Bangsa Asing, red). Setelah berakhirnya Perang Jawa/Perang Diponegoro yang meluluhlantakkan tatanan Jawa Lama menuju tatanan Jawa Baru, timbullah suatu keterbelahan kultural antara masyarakat Islam yang berbasis pada tiga kelompok kultural yaitu kelompok bangsawan, kelompok santri dan kelompok masyarakat awam. Dapat kita kaitkan bahwa setelah Perang Jawa, ketiga kelompok tersebut renggang, tercerabut dari sebuah integrasi yang telah dimulai ketika Mataram di bawah Sultan Agung. Kelompok priyayi kehilangan akar keagamaan dan cenderung menjadi kelompok yang terbaratkan; kelompok santri menjaga jarak terhadap kekuasaan politik istana / keraton; dan masyarakat awam menjadi agak berjarak dengan pembelajaran keagamaan model pesantren yang kian dianggap sebagai jaringan pemberontakan pasca Perang Jawa yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro.
