Wali Berandal Tanah Jawa

Jepretan Layar 2021 04 26 pukul 12.54.44
Penulis Buku 'Wali Berandal Tanah Jawa' George Quinn (Tangkapan Layar KPG)
0 Komentar

CARUBAN NAGARI-Cerita dimulai dari Gunung Lawu di perbatasan Jawa Tengah-Jawa Timur. Salah satu gunung yang menjadi tujuan pendakian para pendaki gunung. Namun, kali ini, Gunung Lawu tidak seperti biasanya. Tempat ini dipadati oleh pengunjung untuk nyekar (Jw: Ziarah) yang bertepatan dengan Bulan Sura, 1 Muharram. Para peziarah yang datang dari berbagai penjuru nusantara berduyun-duyun mencapai puncak gunung yang dikeramatkan tersebut dengan satu niat: ngalap berkah.

George Quinn, seorang peneliti di Pusat Kajian Asia Tenggara, Australia National University memulai perjalanan penelitiannya dari sini. Kisah tentang Kusnadi yang kukunya copot hingga berdarah akibat terpelatuk batu saat pendakian, buku Nahjul Balaghah yang disimpan sebagai jimat hingga punden Sunan Lawu yang konon misterius menjadi pembuka buku ini dengan menarik dan runtut.

https://www.youtube.com/watch?v=WT9QExFHQRs

Praktik ziarah di Jawa dengan segala keberagaman dan pertentangannya, disinyalir merupakan gugatan atas ragam baku agama Islam yang menguat dalam lanskap keagamaan Indonesia sejak tahun 1980-an. Cuplikan buku yang memang menyodorkan pertentangan klasik antara arus Islam tradisional dan Islam Puritan. Islam tradisional seringkali dituduh sebagai Islam yang tidak murni, sinkretik, dan berupaya untuk toleran terhadap praktik-praktik bid’ah bahkan mendekati musyik. Ziarah adalah salah satu contohnya. Oleh karena itu, misi Islam puritan adalah membersihkan praktik meyimpang tersebut dengan penyebarluasan wacana pemurnian terhadap Islam “sinkretik” dengan segala pernak-pernik kebudayaannya.

Baca Juga:Kapal Selam Nanggala 402 Diprediksi Berada di Kedalaman yang Setara dengan Gedung Tertinggi di Dunia Burj KhalifaNegara Maritim Tapi Impor Ikan

Islam tradisional seringkali dituduh sebagai Islam yang tidak murni, sinkretik dan berupaya untuk toleran terhadap praktik-praktik bid’ah bahkan mendekati musyik. Ziarah adalah salah satu contohnya.

Bagi George Quinn, kontradiksi praktik keberagamaan tersebut memancing ketertarikannya untuk menelusuri situs dan makam keramat yang tersebar di Jawa.  Rasa penasarannya itu juga didorong oleh pernyataan seseorang bahwa terjadi kenaikan pengunjung makam-makam keramat tertentu yang signifikan dalam 20 tahun terakhir. Tentu, ia tidak dapat melepaskan imajinasi peneliti Jawa seperti Clifford Geertz yang membagi Jawa menjadi tiga tipologi kebudayaan: Priyayi, Santri dan Abangan. Secara lugas pada halaman 8, Quinn menuliskan bahwa praktik Ziarah tidak murni dan eksklusif. Ziarah dipandang sebagai sesuatu yang sangat Islami sekaligus menggabungkan semangat kuno pra-Islam, (Ia menyebutnya sebagai gado-gado praktik ibadah) yang condong pada tipologi masyarakat Abangan. Sebagai agama, Islam diserap tanpa meninggalkan kebudayaan pra-Islam hingga hadirlah ekspresi Islam yang “gado-gado”, menurutnya.

0 Komentar