Secara garis besar, Quinn menyajikan pengamatannya sepanjang situs-situs keramat yang berasal dari era pra-Islam hingga era Islam yang ditandai dengan Makam Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang menjadi sebuah benteng pertahanan muslim tradisional terhadap berkembangnya arus utama ekstrimisme Islam yang memiliki tendensi puritan dan anti terhadap kebudayaan lokal. Praktik berlebihan yang bagi sebagian orang dianggap menyimpang, mendekati kesyirikan dan kekufuran justru menjadi penanda kesalehan spiritual di tengah kegersangan modernitas. Hal itu juga menjadi salah satu penjelas mengapa terjadi kenaikan angka peziarah pada era Pasca Reformasi.
(1) Darmagandul secara harfiah berarti kantong buah pelir kemaluan laki-laki, nama seorang tokoh yang kemudian dijadikan nama sebuah Serat (hal 80)
[2]Â Gatholoco secara harfiah berarti kemaluan laki-laki yang bergantungan dan dikocok. Sebuah nama yang sangat vulgar sebagai sebuah serat yang muncul sebagai kritik atas berkembangnya Islam sebagai sebuah kekuatan kebudayaan dan politik menggantikan Hindu-Buddha. (hal 80)
