Wali Berandal Tanah Jawa

Jepretan Layar 2021 04 26 pukul 12.54.44
Penulis Buku 'Wali Berandal Tanah Jawa' George Quinn (Tangkapan Layar KPG)
0 Komentar

Bagian menarik lainnya dari buku ini adalah tentang makam Habib Hasan al-Haddad di Tanjung Priuk. Nama beliau lebih dikenal sebagai Mbah Priok. Pada ingatan yang samar, saya mengingat bagaimana Peristiwa Tanjung Priok 1984 diceritakan dalam banyak buku dan media massa. Sebuah cerita yang menandakan opresi Orde Baru terhadap kekuatan Islam di penghujung masa akhir sebuah rezim diktator. Makam Mbah Priok yang berada di sekeliling terminal peti kemas adalah sebuah simbolisasi spiritualisme di tengah arus perdagangan internasional. Namun bagi pemerintah dan pengelola Tanjung Priok, makam Mbah Priok adalah duri dalam daging yang menghalangi ekspansi kapital. Rencana penggusuran pun dipersiapkan dengan skenario terburuk.

Skenario terburuk memang benar-benar terjadi. Pertumpahan darah tak dapat terhindarkan ketika aparat bersenjata dan Satpol PP berhadapan dengan Laskar FPI yang notabene adalah pengikut salah satu keturunan Mbah Priok. Di tengah-tengah kemiskinan yang membelenggu, Mbah Priok tak sekedar makam Wali yang sudah meninggal namun menjadi figur pembela masyarakat urban perkotaan yang terancam dipinggirkan oleh struktur sosio-ekonomi global.

Di tengah-tengah kemiskinan yang membelenggu, Mbah Priok tak sekedar makam Wali yang sudah meninggal namun menjadi figur pembela masyarakat urban perkotaan yang terancam dipinggirkan oleh struktur sosio-ekonomi global.

Baca Juga:Kapal Selam Nanggala 402 Diprediksi Berada di Kedalaman yang Setara dengan Gedung Tertinggi di Dunia Burj KhalifaNegara Maritim Tapi Impor Ikan

Penelusuran etnografi George Quinn menyajikan makam keramat yang berada di luar kebudayaan Jawa ternyata juga tidak kalah sakti, bertuah dan keramat. Ritus ziarah yang semula adalah ritus keagamaan berkembang sedemikian rupa menjadi sebuah konsolidasi sosial, pertaruhan ekonomi masyarakat dan kebanggaan tertentu pada anak keturunannya. Para raja-raja di Madura mengklaim bahwa Syarifah Ambami yang dimakamkan di Aer Mata adalah salah satu leluhur mereka. Melalui pertalian genealogi tersebut, muncul sebuah kebanggaan tertentu yang menjadi legitimasi politik di tengah kuatnya budaya kultus personal di tengah-tengah masyarakat Madura. Bahwa bukan hanya di Jawa atau lebih tepatnya “berkebudayaan Jawa” budaya ziarah itu penting, namun sudah menembus batas-batas geografis Jawa.

Sebuah ungkapan menggelitik yang diutarakan oleh penulis buku ini bahwa ia pernah ditawari untuk masuk Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat waktu ia di Masjid Agung Demak. Di dalam hati, ia merasa tak bijak kalau mengaku sebagai orang atheis. Namun ia mengelak bahwa mengucapkan syahadat sebagai pengakuan ikrar keimanan membutuhkan sebuah kesiapan dan kemantapan yang tulus, bukan hanya sekedar diucapkan di lisan. Dalam sebuah wawancara yang lain tentang Sunan Bonang, George Quinn tak hanya mengamati, mencatat dan merangkum tentang apa dan siapa Sunan Bonang, namun ia juga terlibat dalam pembicaraan mendalam dengan juru kunci Sunan Bonang yang menceritakan riwayat hidup Sang Wali yang tak boleh dicatat, ditulis dan disebarluaskan secara umum tentang Sunan Bonang.

0 Komentar