CARUBAN NAGARI-Sejarah mengenai Sunan Kalijaga ada tiga versi yaitu: Arab, China dan Jawa. Berdasarkan versi jawa, Sunan Kalijaga adalah putra seorang adipati Tuban, Jawa Timur dan ibunya bernama Dewi Retno Dumilah. Namun versi lain mengatakan ibunya Dewi Nawang Arum (putri Ki Ageng Tarub). Kedudukan adipati di zaman dahulu berbeda dengan jabatan bupati di zaman sekarang. Kekuasaan adipati itu sama dengan raja, tetapi di bawah kekuasaan Maharaja.
Kadipaten Tuban waktu itu di bawah kekuasaan kerajaan Majapahit, Tumenggung Wilatika (Raden sahur) atau Arya Teja IV versi lain dalam babad Cerbon naskah Nr. 36 koleksi Brandes, dijumpai keterangan bahwa ayahanda Sunan Kalijaga bernama Arya Sadik, dijuluki “ Arya ing Tuban”.
Sedangkan cerita yang berasal dari Arab menyebutkan bahwa Sunan Kalijaga adalah keturunan yang berasal dari keluarga Nabi Muhammad SAW yang berdasarkan silsilah bermula dari keurunan Abdul Muthalib (kakek Nabi Muhammad SAW) yang mempunyai putra Abbas, berputra Abdul Wakhid, berputra Mudzakir, berputra Abdullah, berputra Madhra’uf, berputra Hasanudin hingga berputra Abdur Rakhim (Aria Teja, Bupati Tuban), berputra Tumenggung Wilwatikta dan berakhir pada Raden Sahid (Sunan Kalijaga).
Baca Juga:Anda Ingin Mengenal Suanggi? Ilmu Hitam di Indonesia TimurIni Pidato Soekarno Saat Peringati Maulid Nabi
Sunan Kalijaga diperkirakan lahir di Tuban pada tahun 1430-an. Tentang digunakannya nama Kali Jaga sendiri dikaitkan dengan awal perjalanannya menjadi murid Sunan Bonang, yang mengantarkan Raden Sahid yaitu selama beberapa tahun menjadi penjaga tongkat Sunan Bonang yang ditancapkan di tepi sungai atau telaga di lereng gunung Surowiti (sekarang Desa Surowiti Kecamatan Penceng Kabupaten Gresik Jawa Timur) yang kemudian di tempat itu meninggalkan sebuah patilasan.
Sunan Kalijaga diceritakan sebagai seorang pemuda yang sudah sangat kritis terhadap kemiskinan di sekitarnya dalam kekuasaan Majapahit, sehingga disebutnya sebagai “maling budiman”, yakni merampok orang kaya yang korup, dengan cara membajak di dalam hutan dan hasilnya dibagikan kepada orang miskin.
Kiprah Dakwah Sunan Kalijaga
Sunan Kalijaga merupakan ulama termuda yang diangkat menjadi wali, tetapi memiliki ilmu paling tinggi dan paling lama pula menjalankan dakwahnya. Pola dakwah yang dikembangkannya mirip dengan guru sekaligus sahabatnya, Sunan Bonang. Kedua wali ini cenderung menganut faham sufistik berbasis salaf, bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Sunan Kalijaga memiliki kesenian dan kebudayaan sebagai sarana yang efektif untuk berdakwah.
