Kisah Tunduknya Orang Terkaya Baghdad di Hadapan As Sayyid As Syekh Abdul Qadir Al-Jailani Al Hasani, Gegara Jubah

syekh samman al madani
As Sayyid As Syekh Abdul Qadir Al-Jailani Al Hasani.
0 Komentar

CARUBAN NAGARI-Takluknya orang terkaya Baghdad di hadapan As Sayyid As Syekh Abdul Qadir Al-Jailani Al Hasani. Dikisahkan bahwa Abdus Shamad bin Humam termasuk orang terkaya di Baghdad. Ia dikenal sangat cinta dunia, sombong dan takabur. Ia bangga telah memiliki dunia dan banyak orang yang bekerja kepadanya, ia mengira dapat menguasai dan memerintah mereka untuk melakukan apa saja sesenang hatinya.

Sebagai materialis sejati, ia terang-terangan tidak menyukai As Syekh Abdul Qadir al-Jailani dan mengingkari karamahnya. Ia menuturkan pengalamannya berikut ini: “Sebagaimana kalian ketahui, aku tak pernah menyukai As Syaikh Abdul Qadir al-Jailani.”

Meskipun kekayaanku berlimpah dan aku dapat memiliki apapun yang aku inginkan, aku tak pernah merasa puas senang dan tenang.

Baca Juga:Legislator: Izin Reklamasi Pantai PT Gamantara Trans Ocean Meresahkan Warga Pesisir PanjunanTradisi Panjang Jimat Muncul Sejak Masa Pangeran Cakrabuana

Pada suatu Jumat, ketika aku lewat di dekat madrasahnya, aku mendengar adzan. Aku berkata dalam hati: “Apa sih keunggulan orang ini, yang telah menarik perhatian banyak orang melalui karamahnya?

Aku akan shalat Jumat di masjidnya, Masjid itu telah penuh sesak. Aku merengsek menerobos kerumunan orang dan kuperoleh tempat persis di bawah mimbar.

As Syekh Abdul Qadir al-Jailani‎ mulai menyampaikan khutbahnya dan apapun yang dikatakannya membuatku jengkel.

Tiba-tiba aku merasa mulas ingin buang hajat. Tetapi aku tak dapat keluar dari masjid. Aku takut dan sangat malu, karena rasa mulas itu tak dapat ku tahan.

Perasaan jengkelku kepada As Syekh Abdul Qadir al Jailani kian menjadi-jadi. Namun, ketika aku dibasahi keringat dingin karena malu dan menahan mulas, pelan-pelan As Syekh Abdul Qadir al-Jailani‎ menuruni tangga mimbar dan berdiri di atasku. Seraya berkhutbah, ia menutupiku dengan bagian bawah jubahnya.

Tiba-tiba saja aku telah berada di lembah yang hijau dan indah. Kulihat sebuah sungai kecil yang mengalirkan air yang jernih. Segera saja aku buang hajat lalu membersihkan diri dan berwudhu.

Setelah itu, kudapati diriku kembali berada di bawah jubah As Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Beliau‎ pun kembali ke atas mimbar. Aku sangat takjub.

Baca Juga:West Java Triathlon Bakal Digelar Rutin, Korem 063/SGJ: Sukses Sedot Atensi MasyarakatJembatan Penghubung Plompong-Wanareja di Brebes Terputus, Akses Jalan Lumpuh

Tidak hanya perutku yang merasa nyaman, hatiku pun merasa tentram, semua kejengkelan, amarah dan kekesalan sirna sudah.

0 Komentar