Adanya perjanjian antara Penarukan dan Portugis pada tahun 1528 itu olehmu Muh. Yamin, pusat politik Majapahit dianggap sudah tidak ada lagi.
Kesembilan, KH. Ng. Agus Sunyoto dalam bukunya Atlas Walisongo mengungkapkan bahwa; “Kisah Perebutan kekuasaan Tandha Bhintara (Raden Patah) terhadap Adipati Bhintara Lembu Sora inilah yang dikacaukan dengan cerita perebutan tahta Majapahit oleh Raden Patah, yang semestinya peristiwa perselisihan Majapahit dengan Demak itu terjadi mada masa Sultan Trenggono, yang ditandai serangan-serangan lascar Islam dibawah pimpinan Sunan Ngudung dan dilanjutkan oleh Sunan Kudus pada tahun 1447 Saka dan 1449 Saka (1525 dan 1527 M), jauh setelah wafatnya Raden Patah.”
Kesepuluh, Hasan Djafar, dalam penyimpulannya mengenai keruntuhan Majapahit mengemukakan : “Berita tradisi mengenai saat keruntuhan Kerajaan Majapahit pada Saka 1400, yang disimpulkan dalam candra sengkala ―Sirna Ilang Kertaning Bhumi, haruslah ditafsirkan sebagai peristiwa perebutan kekuasaan atas tahta Kerajaan Majapahit yang dilakukan oleh Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya terhadap Bhre Krtabhumi.
Baca Juga:Misteri Gunung Api Karyamukti Fenomena Mengejutkan Situs Megalitikum Gunung PadangIni Alasan Mencari Nama Asep hingga Eneng Sulit Ditemukan di Tatar Sunda
Pada tahun Saka 1400 itu Ranawijaya mengadakan penyerangan ke Majapahit (yuddha lawanin Majapahit). Dalam penyerangan itu Bhre Krtabhumi gugur di Kedhaton.”
Kesebelas, kesaksian Tome Pires yang pada tahun 1513 M yang datang ke Jawa, ia mendapati Kerajaan Demak dipimpin Pate Rodin Jr (Sultan Trenggana). Di tempat berbeda, Tome Pires juga mencatat bahwa di pedalaman Jawa masih terdapat kerajaan yang bukan Islam (Majapahit) masih berkuasa dan memiliki prajurit bersenjata senapan sebanyak 100.000 orang.
Keduabelas, catatan Antonio Pigafetta; Antonio Pigafetta dari Italia datang ke Jawa tahun 1522 M, menegaskan bahwa Kerajaan Meghepahert (Majapahit) yang bukan Islam masih berkuasa di pedalaman dengan pasukan yang kuat.
Ketigabelas, Serat Darmogandul, inilah yang paling lengkap dan dramatis menarasikan kedurhakaan Raden Patah terhadap ayah kandungnya, Prabu Brawijaya V dengan menyerang Majapahit pada tahun Saka 1400 atau 1478 M.
Mengenai serat ini, Damar Shashangka, penulis buku “Darmaghandul, Kisah Kehancuran Jawa dan Ajaran-Ajaran Rahasia” menulis bahwa naskah asli serat ini berbentuk macapat, namun kenyataannya naskah yang ada hari ini berbentuk prosa dengan bahasa Jawa Ngoko (kasar).
