Naskah prosa Serat Darmaghandul ini dibuat pada 23 Ruwah 1830 atau 23 Syaban 1318 Hijriyah atau sama dengan 16 Desember 1900. Ki Agus Sunyoto (2015) menyatakan Serat Darmaghandul ditulis oleh seorang penginjil pribumi bernama Ngabdullah dari Juwono Pati yang kemudian berjuluk Ki Ibrahim Tunggul Wulung (1800-1885 M).
Tunggul Wulung menulis Serat Darmagandul atas perintah pemerintahan Kolonial Belanda untuk menyerang Islam dan pondok pesantren yang dikembangkan para pengikut Pangeran Diponegoro yang mundur usai perang Jawa 1830. Tunggul Wulung untuk keperluan penulisannya mengadaptasi hampir sebagian besar isi Babad Kediri yang ditulis dari kesaksian Gendruwo (Jin) Bota Locaya.
Keempatbelas, prasasti-prasasti peninggalan Girindrawardhana. Prasasti ini terdiri dari lima prasasti, yaitu Prasasti Petak, Prasasti Trailokyapuri I dan II yang memuat angka tahun Saka 1408 (1486 Masehi), Prasasti Trailokyapuri III yang dituliskan pada dua batu (angka tahunnya sudah rusak dan tidak terbaca lagi) berasal dari tahun Saka 1408 dan Prasasti Trailokyapuri IV.
Baca Juga:Misteri Gunung Api Karyamukti Fenomena Mengejutkan Situs Megalitikum Gunung PadangIni Alasan Mencari Nama Asep hingga Eneng Sulit Ditemukan di Tatar Sunda
Prasasti Trailokyapuri IV ditemukan di Dusun Sidotopo, Desa Manunggal Kecamatan Mojosari berangka tahun Saka 1408. Dan didalam Prasasti petak kita mendapatkan sebuah keterangan penting.
Keterangan ini menyatakan adanya peperangan melawan Majapahit ( yuddha lawanin Majapahit ). (Arian Mardiansyah Putra, DINASTI GIRINDRAWARDHANA DYAH RANAWIJAYA DALAM KAJIAN PRASASTI PETAK TAHUN 1486 M. UN Surabaya 2021. hlm. 9-10).
Gerindrawardana adalah Raja Majapahit yang mengkudeta Brawijaya V dan menjabat seiring dengan pertumbuhan Kesultanan Demak Bintoro di pesisir Utara Jawa.
