Menurut catatan arkeolog dan penelitian Balai Arkeologi Bandung, bangunan ini diperkirakan berasal dari abad ke-8 hingga ke-9. Keberadaan makam Eyang Embah Dalem Arief Muhammad di samping candi, memperlihatkan kesinambungan antara jejak Hindu dan Islam dalam lanskap budaya Sunda.
Situs candi yang paling terkenal di Jawa Barat tentu saja Gunung Padang di Cianjur. Gunung Padang kerap memicu perdebatan sengit karena situs megalitik dengan teras-teras batu ini semula dipandang sebagai peninggalan megalitik biasa.
Namun sejak 2011, klaim sebagian peneliti bahwa di bawahnya tersembunyi “piramida” berusia puluhan ribu tahun memicu polemik. Sejumlah artikel ilmiah yang terlalu spekulatif bahkan ditarik kembali.
Baca Juga:Menelusuri Nisan Bertuliskan Arab di Kompleks Makam Blok Wuni Desa Dawuan CirebonPerjalanan Kabupaten Cirebon Timur dari Prabu Amuk Marugul hingga Kawasan Cultuurstelsel 1830
Hingga kini, konsensus arkeolog hanya menyebut Gunung Padang sebagai situs megalitik besar—bukan candi era Hindu–Buddha—tetapi penting sebagai bukti panjangnya sejarah hunian manusia di Tanah Sunda.
Lantas mengapa jejak candi di tanah Sunda bisa dihitung jari? Setidaknya ada sejumlah alasan yang membuat tidak banyak peninggalan candi yang pernah dan masih berdiri hingga kini.
Pertama pusat politik yang berbeda. Pembangunan candi besar pada masa Hindu–Buddha sangat bergantung pada patronase raja. Di Jawa Tengah dan Timur, kerajaan-kerajaan besar seperti Mataram Kuno dan Majapahit menggunakan candi sebagai sarana legitimasi kekuasaan dan ritual pemujaan raja-dewa. Sementara Kerajaan Sunda —dengan pusat di Pakuan Pajajaran— memiliki tradisi politik berbeda dan tidak mengembangkan program monumental setara Mataram.
Alasan kedua bahan bangunan mudah rapuh karena tradisi arsitektur orang Sunda lebih banyak memanfaatkan kayu, bambu, dan bata yang mudah lapuk di iklim lembap. Batu andesit yang mendominasi candi Jawa Tengah jarang dipakai di Sunda. Sebaliknya, batu bata yang digunakan di Batujaya menunjukkan banyak bangunan ritual mungkin telah lenyap tertelan waktu.
Ketiga, proses tafonomi dan pemanfaatan ulang. Bencana alam, sedimentasi, dan aktivitas pertanian menimbun atau merusak situs. Batu dan bata kerap dipakai kembali sebagai pondasi rumah atau nisan. Catatan peneliti kolonial Belanda menyebut banyak arca dan batu candi kecil dipindahkan ke museum, membuat bukti lapangan semakin terputus.
