Selusur Tengah Tani, Jejak Pedukuhan Kuno yang Hampir Hilang

Petilasan Ki Danu Sela di Desa Palir
Petilasan Ki Danu Sela di Desa Palir
0 Komentar

Ki Gede Gesik dikenal sebagai panglima perang Palagan Galuh yang ditunjuk langsung oleh Pangeran Cakrabuana. Pangeran Gesang adalah santri Mbah Kuwu Cirebon.

Menurut tradisi lisan Ki Ageng Gesang, ayah Pangeran Gesang merupakan pelarian dari kerajaan Majapahit dan tingga di Cirebon, saat itu masih berbentuk pedukuhan.

Konon, tradisi lisan yang berkembang di Desa Astapada, suatu waktu Ki Gede Gesik diundang di bulan Maulud oleh Kesultanan Demak dan diwakilkan putranya Pangeran Astapada. Namun, keberadaannya seakan dipandang sebelah mata oleh orang-orang Demak.

Baca Juga:Inilah Penjelasan Mengapa di Tanah Jabar Jarang Ditemukan Peninggalan Candi Seperti di Jateng dan JatimMenelusuri Nisan Bertuliskan Arab di Kompleks Makam Blok Wuni Desa Dawuan Cirebon

Ada kemungkinan secara tata kenegaraan Pangeran Astapada dianggap penguasa desa biasa di wilayah Ceribon, yang tidak orang ketahui Pangeran Astapada merupakan keturunan bangsawan dari Majapahit yang sudah runtuh.

Pangeran Astapada merasa tersinggung, dengan kesaktiannya ia membawa sumur yang menjadi sumber air utama dalam acara tersebut. Malam sebelum acara puncak, digendongnya sumur itu dari Demak ke Cirebon tepatnya ke Desa Astapada. Gegerlah seisi Kesultanan Demak, sumur yang biasa digunakan untuk upacara hilang tanpa diketahui sebab musababnya.

Astapada berasal dari kata ‘Asta’ adalah tangan dan ‘Pada’ berarti sama, hingga saat ini Astapada diabadikan sebagai nama Desa yang berdiri sendiri pada tahun 1984, semula menginduk pada Desa Gesik.

Desa Dawuan, berasal dari kata dawuhan atau dawuh yang berarti pangandika dengan makna kata ucapan yang disampaikan oleh orang yang memiliki kemuliaan, keagungan dan kealiman ilmu yang dimilikinya.

Di wilayah ini terdapat, situs pesarean Ki Buyut Saptarengga, Ki Buyut Muji, Ki Buyut Kilayaman, dan Ki Buyut Kasih.

Menurut tradisi lisan, nama Tengah Tani diambil dari Ki Buyut Muji yang suka suka bercocok tanam atau bertani ‘Tani’. Adapun maksud ‘Tengah’ adalah di di tengah-tengah kesibukannya dalam beribadah, Ki Buyut Muji suka menanam jagung, singkong, palawija, dan padi.

Masih mengutip budaya tutur setempat, Tengah Tani ketunggon kraton atau dekat dengan kraton, dan wilayah Tengah Tani pernah menjadi tempat persembunyian para pinangeran masa kejayaan Belanda di hutan Nambah yang berarti mengobati dan dikenal nambo karena logat masyarakat lokal, A menjadi 0

0 Komentar