SEJARAH wilayah Tengah Tani di Cirebon terkait erat dengan masa-masa awal pendirian dan perkembangan Cirebon, khususnya yang berkaitan dengan peran Pangeran Cakrabuwana dalam menyebarkan Islam dan memperluas wilayah kekuasaan di awal abad ke-15.
Wilayah ini memiliki sejumlah makam kuno dan peninggalan bersejarah yang berkaitan dengan para tokoh penting penyebar agama dan penjaga tanah.
Wilayah Tengah Tani dan sekitarnya menyimpan cerita sejarah panjang yang berkaitan dengan perjuangan, penyebaran agama, dan pembentukan peradaban lokal.
Baca Juga:Inilah Penjelasan Mengapa di Tanah Jabar Jarang Ditemukan Peninggalan Candi Seperti di Jateng dan JatimMenelusuri Nisan Bertuliskan Arab di Kompleks Makam Blok Wuni Desa Dawuan Cirebon
Seperti yang tercatat dalam penelusuran catatan caruban nagari terdapat sejumlah makam pinangeran di wilayah Nambo (bagian dari wilayah yang kini mencakup Tengah Tani).
Sejumlah makam sering kali diberi nisan batu tanpa identitas, kemungkinan untuk menghindari Belanda.
Diantaranya, di blok Nambo, yang dulunya selain menjadi tempat berkumpul para tokoh penting. Terdapat, peninggalan dan situs bersejarah di daerah tersebut, seperti Bale Panjang yang dibuat oleh Ki Krapyak atas perintah Ki Ageng Gesang. Dulunya, Bale Panjang ini terletak di Desa Astapada, namun dipindahkan ke dekat kantor Desa Gesik untuk menjaga keamanan dan mengawasinya.
Bale Panjang dipergunakan untuk tempat musyawarah para pembesar wilayah, seperti Ki Nur, Ki Jago, dan Ki Mawas, Ki Bagus, Ki Astajaya, Ki Bekati, Nyi Bekati, Ki Jagabaraksa, Ki Abang, dan Ki Gampang.
Selain itu, terdapat sumur tua yang diyakini memiliki kekuatan gaib. Air sumur ini akan muncul saat kekeringan di desa lain, dan akan menghilang saat musim hujan. Air sumur tersebut dipercaya dapat menangkal musibah (pageblug).
Sebagai penghormatan kepada Ki Gede Astapada, masyarakat setempat rutin mengadakan pertunjukan wayang kulit di dekat sumur tersebut pada Bulan Maulud (sekarang diganti setiap bulan Agustus).
Ada yang menarik dari sumur tersebut, sejak dulu sumur itu tidak dapat ditebak kapan akan terisi air. Musim hujan ketika sumur-sumur lainnya di Desa Astapada airnya berlimpah ruah, sumur itu tidak berair sama sekali. Namun adakalanya ketika Desa Astapada musim kering, sumur itu airnya terkadang berlimpah.
Baca Juga:Perjalanan Kabupaten Cirebon Timur dari Prabu Amuk Marugul hingga Kawasan Cultuurstelsel 1830Tradisi Ritual Tahunan Muludan di Situs Balong Kramat Tuk Cirebon
Sebagai informasi, Pangeran Gesang atau Ki Gede Gesik banyak menurunkan penguasa-penguasa lokal, Nyi Mertasari menjadi penguasa di Gegesik, Ki Jagabaya di Jagapura, Ki Sumirang di wilayah Bayalangu, Ki Baluran sebagai Ki Gede Guwa.
