Tengah Tani juga menjadi tempat perlawanan Sultan Matangaji atau Sultan Shafiudin, beliau merupakan Sultan ke V dari Kesultanan Kasepuhan Cirebon bahkan mengatur strategi perlawanan di kawasan hutan Nambah atau Nambo hingga wilayah Plangon dan Sumber.
Sultan Matangaji dikenal sebagai ahli strategi perang yang menggunakan berbagai taktik seperti strategi Bubu, Cakra Yuha, Janur Kuning, dan Damar Lintang.
Masih di wilayah Tengah Tani, akhir abad ke-16 Desa Batembat belum mempunyai nama, hanya dihuni sejumlah penduduk dengan gubug-gubug berdinding anyaman bambu dan beratap daun kelapa dengan alas tidurnya terbuat dari anyaman daun kelapa.
Baca Juga:Inilah Penjelasan Mengapa di Tanah Jabar Jarang Ditemukan Peninggalan Candi Seperti di Jateng dan JatimMenelusuri Nisan Bertuliskan Arab di Kompleks Makam Blok Wuni Desa Dawuan Cirebon
Ki Juriman atau dikenal sebagai Ki Gede Juriman. Ia sangat disegani dan bersama Pangeran Walangsungsang, murid Syekh Nurjati, menunaikan ibadah haji, Ki Juriman diangkat sebagai lebe Cirebon pertama.
Sebagai sorang lebe Cirebon, ia bertugas mengurus pernikahan dan kematian. Dalam menjalankan tugasnya, ia mempunyai dua orang pembantu yang bernama Ki Budi dan Ki Mulyo. Ia mendirikan masjid diberi nama Masjid Al-Aulia. Meski Masjid tersebut tidak memiliki saluran pembuangan air. Namun, tidak menimbulkan genangan air kotor di sekitar Masjid. Air limbah tersebut berada di pesawahan Sicangak.
Suatu saat Sunan Gunung Jati mengadakan musyawarah untuk memberi nama daerah asal Ki Juriman. Setelah melangsungkan musyawarah, pemberian nama tersebut selalu gagal, setiap calon nama daerah diajukan diembat-embat (ditimbang-timbamg).
Akhirnya dalam sebuah musyawarah Sunan Gunung Jati memutuskan memberi nama daerah itu embat-embat. Hingga sekarang daerah itu dinamakan Desa Battembat berasal dari kata Embat-embat.
Lalu, Desa Kemlakagede bermula dari sebuah pedukuhan yang dibuka oleh Raden Mas Zakaria pada masa Kerajaan Pajajaran. Ia adalah seorang tokoh yang berjasa dalam memperluas wilayah Kesultanan Islam Cirebon.
Raden Mas Zakaria atau Ki Gede Buyut Raden Kemlaka atau Ki Muntalarasa artinya seseorang yang memiliki kemampuan dalam mengolah rasa. Pedukukan yang dibuka Raden Mas Zakaria ini, salah satu daerah penyangga dari perkembangan Islam yang sangat pesat di daerah Cirebon.
Peran sertanya, dalam syiar Islam sangat dihormati oleh penguasa Cirebon, sehingga daerah Kemlaka dijadikan daerah istimewa dalam lingkungan Kesultanan Islam Cirebon.
