Bagaimana Sunda-Galuh Mengambil Alih Jawa Barat dari Pengaruh Sriwijaya?

Jejak Kerajaan Sunda di Garut . (Source: Instagram/@hugetfoto)
Jejak Kerajaan Sunda di Garut . (Source: Instagram/@hugetfoto)
0 Komentar

KEMUNCULAN Kerajaan Sunda sebagai kekuatan politik dominan di barat Pulau Jawa sampai hari ini masih menjadi misteri yang terus dibicarakan para peneliti. Hal ini disebabkan kesimpangsiuran sumber sejarah dari kerajaan yang lebih dikenal sebagai Kerajaan Pajajaran ini.

Jika dibandingkan dengan sumber-sumber historis di wilayah Jawa Tengah dan Timur, di mana sumber sejarah secara konstan muncul terus-menerus dan saling tersambung, sumber-sumber historis mengenai Kerajaan Sunda di Jawa Barat justru sifatnya lebih fragmentaris dan kebanyakan berasal dari periode akhir atau bahkan sesudah keruntuhan kerajaan tersebut.

Hasan Djafar dalam “Prasasti-Prasasti dari Masa Kerajaan-Kerajaan Sunda” (1991) menyebut bahwa prasasti yang berkaitan dengan Kerajaan Sunda jumlahnya tidak lebih 15 buah, dan sebagian di antaranya belum pernah dipublikasikan lantaran aksaranya sudah tidak terbaca.

Baca Juga:Mas Bei Kertowidjojo, Perajin Solo yang Gemparkan Pasar Seni BelandaApa Isi Prasasti Damalung? Artefak Bersejarah yang Dipulangkan Belanda ke Indonesia

Di sisi lain, sumber-sumber penulisan sejarah Sunda juga karib betul dengan tradisi lisan yang kental dengan distorsi akibat dinamika zaman.

Perintisan Negeri Sunda

Sumber tertulis paling awal yang menyebut nama “Sunda”, khususnya sebagai nama kerajaan, adalah Prasasti Kebon Kopi II di Bogor. Prasasti yang dikeluarkan pada 932 M itu, sebagaimana disinggung oleh Djafar dalam “Invasi Sriwijaya ke Bhumijawa: Pengaruh Agama Buddha Mahayana dan Gaya Seni Nalanda di Kompleks Percandian Batujaya” (2014), menyebut suatu peristiwa pengembalian kekuasaan dari seseorang bernama Rakryan Juru Pangambat pada seseorang yang memiliki nama (atau mungkin lebih tepat gelar) haji ri Sunda (Raja di Sunda).

Menarik untuk diperhatikan bahwa prasasti itu ditulis menggunakan bahasa Melayu Kuno, sehingga beberapa peneliti kolonial, juga Djafar, memercayai bahwa prasasti itu dikeluarkan oleh Kedatuan Sriwijaya. Apabila diperhatikan sumber-sumber terdahulu, maka penyerangan Sriwijaya ke Jawa Barat terjadi pada masa kekuasaan Tarumanagara (sekitar abad ke-7). Bukankah ini artinya Sunda merupakan penerus yang sah dari kerajaan yang dipimpin Purnawarman?

Terlepas dari itu, nama Sunda kembali muncul pada prasasti yang terbit kurang lebih seabad setelah Prasasti Kebon Kopi II ditulis. Bedanya, apabila Prasasti Kebon Kopi II ditemukan di Bogor, maka prasasti kedua yang dikenal sebagai Sanghyang Tapak ini berasal dari Cibadak, Kabupaten Sukabumi.

0 Komentar