Mas Bei Kertowidjojo, Perajin Solo yang Gemparkan Pasar Seni Belanda

Candi Borobudur 1888
Candi Borobudur 1888
0 Komentar

PADA pertengahan abad ke-19, pasar barang antik di Amsterdam sempat dibanjiri arca-arca logam bergaya Jawa Kuno. Benda-benda perunggu itu diperdagangkan sebagai artefak asli dari era Hindu-Buddha di Jawa, lengkap dengan klaim hasil eskavasi di Karesidenan Kedu.

Narasi tersebut datang pada waktu yang tepat. Orang-orang Eropa saat itu sedang gila-gilanya terhadap benda-benda berbau Jawa. Sejak Thomas Stamford Raffles dan Nicolaus Engelhard mengaduk-aduk Jawa lalu membawa pulang jarahan, kolektor dan pejabat kulit putih berbondong-bondong memburu artefak purbakala.

Maka, ketika puluhan arca perunggu mendarat di pasar antik Amsterdam antara tahun 1854 hingga 1855, mereka tidak tahu, simbol para dewa yang ingin dikoleksi itu lahir dari tipu daya bumiputera. Belakangan Hindia Belanda mengendus bahwa arca-arca tersebut bikinan Mas Bei Kertowidjojo dari wilayah Surakarta.

Demam Borobudur dan Pasar Purbakala Jawa

Baca Juga:Apa Isi Prasasti Damalung? Artefak Bersejarah yang Dipulangkan Belanda ke IndonesiaIndonesia Alami Sejumlah Kendala Pemulangan Prasasti Pucangan dari India

Untuk memahami kasus Kertowidjojo, konteks Jawa pada dekade 1850-an penting disimak. Pada masa itu, pemerintah kolonial memang sedang gencar meneliti situs-situs purbakala di Jawa Tengah, terutama Borobudur. Tokoh macam Frans Carel Wilsen dan J.T.G. Brumund ditugasi mendokumentasikan relief dan menyusun deskripsi ilmiah mengenai candi-candi Jawa.

Publikasi tentang penemuan artefak dari wilayah Kedu terus beredar di Eropa, memicu rasa ingin tahu terhadap sejarah Jawa Kuno. Nama Kedu perlahan berubah jadi semacam “merek dagang” purbakala Jawa. Apa pun benda galian yang diklaim berasal dari wilayah itu punya daya tarik di pasar barang antik Eropa.

Kertowidjojo diduga jeli membaca situasi tersebut. Ia tampak memahami bahwa selain membeli benda, kolektor Barat membeli cerita. Provenans atau kisah asal-usul artefak menentukan nilai jual. Dengan mengklaim asal usulnya dari penggalian di Kedu, nilai komersial arca buatannya meningkat drastis.

Kecurigaan baru muncul saat Dr. Conradus Leemans, Direktur Museum van Oudheden di Leiden, menemukan kejanggalan di arca-arca tersebut. Sebagai otoritas penting kajian purbakala Hindia Belanda, Leemans lantas membuat catatan kritis yang kemudian dikirim ke pemerintah kolonial.

Pemerintah menanggapi dengan melakukan investigasi, melacak asal-usul arca-arca itu. Hasil penyelidikannya dicatat dalam laporan resmi pemerintah kolonial di wilayah jajahan, Verslag van het beheer en den staat der Koloniën 1856. Perihal pemalsuan itu ditulis secara dingin dalam satu selipan paragraf ringkas:

0 Komentar