“Valsche oudheden. Naar aanleiding van opmerkingon door den directeur van het Museum van Oudheden te Leyden gemaakt, werd een onderzoek ingesteld naar den oorsprong van eenige te Amsterdam aangebragte en, vojgens opgave, in 1854 en 1855 in de residentie Kedoe opgedolven metalen beeldjes. Uit dat onderzoek bleek, dat zekere in Soerakarta te huis behoorende mas Bei KERTOWIDJOJO die beeldjes had vervaardigd en zich nog steeds met die industrie bezig hield.”
Laporan tersebut menggambarkan kegiatan Kertowidjojo sebagai sebuah “industrie” atau industri pembuatan arca. Pilihan kata industri menunjukkan bahwa produksi arca palsu itu dilakukan sistematis, berskala masif, terorganisasi, dan diduga untuk menyuplai pasar Eropa.
Verslag van het beheer en den staat der Koloniën 1856 baru dicetak secara massal dan dibagikan kepada anggota parlemen di Belanda pada 1859. Berselang tiga tahun itulah, surat kabarJava-Bode (terbit di Hindia Belanda) dan majalah seni Algemeene Konst- en Letter-bode (terbit di Belanda) baru mewartakan kasus pemalsuan arca Jawa Kuno oleh Kertowidjojo.
Baca Juga:Apa Isi Prasasti Damalung? Artefak Bersejarah yang Dipulangkan Belanda ke IndonesiaIndonesia Alami Sejumlah Kendala Pemulangan Prasasti Pucangan dari India
Kasus pemalsuan arca tersebut juga diabadikan dalam jurnal ilmiah Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië volume 7 nomor 3 tahun 1864 melalui tulisan berjudul “De Indische Talen en Oudheden, volgens de Regeringsverslagen Omtrent den Staat en het Beheer van Nederlandsch-Indië, over de jaren 1849–1860”. Dengan itu, perkara Kertowidjojo masuk dalam dokumentasi akademik pemerintah dan kalangan peneliti Belanda pada abad ke-19.
Hingga kini, belum diketahui jenis arca yang dipalsukan oleh Mas Bei Kertowidjojo. Arsip laporan pemerintah kolonial Hindia Belanda hanya menyebut “patung logam” yang diklaim digali dari Kedu, tapi ternyata itu barang palsu buatan dari Surakarta. Sementara itu, arsip catatan Leemans terkait kasus ini belum ditemukan.
Jika menilik catatan sejarah, memang tidak ada penggalian arca di Kedu sekitar 1850-an. Namun, Leemans saat itu berkontribusi menerbitkan Bôrô-Boedoer op het eiland Javapada 1873. Buku yang dia susun sejak 1859 tersebut merupakan monografi olahan dari hasil kegiatan Wilsen dan Brumund selama mendokumentasikan Candi Borobudur dalam bentuk gambar dan tulisan sejak 1849 sampai 1856.
