Mas Bei Kertowidjojo, Perajin Solo yang Gemparkan Pasar Seni Belanda

Candi Borobudur 1888
Candi Borobudur 1888
0 Komentar

Satu rahasia penting yang membuat permukaan arca bisa keluar dengan tekstur sangat halus tanpa cacat pori modern ada pada formula lapisan karbon. Menurut Jasper dan Pirngadie, sebelum cetakan luar yang kasar dipasang, pengrajin Jawa memandikan (di-does) model lilin mereka dengan cairan bubur halus dari campuran arang kayu dan pasir halus, disebut juga loempoer atau pasir tarabban.

Lapisan arang tipis itulah yang menjaga logam perunggu cair tidak rembes ke pori-pori tanah liat luar saat proses penuangan (nglëbar/ngëtjor) berlangsung. Alhasil, arca keluar dari cetakan dengan dinding rata dan mulus.

Para pengecor logam Jawa juga memiliki kalkulasi matematis-empiris-presisi terkait volume bahan baku. Mereka memahami hukum rasio berat 1:10, yang berarti setiap 1 katie lilin malam yang dibentuk pada model cetakan bakal diganti secara akurat oleh 10 katie logam cair saat proses pengisian rongga.

Sosok Misterius Kertowidjojo

Baca Juga:Apa Isi Prasasti Damalung? Artefak Bersejarah yang Dipulangkan Belanda ke IndonesiaIndonesia Alami Sejumlah Kendala Pemulangan Prasasti Pucangan dari India

Kendati namanya sempat menggegerkan pasar seni kolonial, sosok Mas Bei Kertowidjojo masih relatif misterius. Arsip mengenai dirinya terbatas dan belum banyak diteliti secara mendalam.

Nama kertowidjojo tergolong cukup umum dalam arsip Jawa abad ke-19 sehingga sulit memastikan identitas personalnya secara akurat. Sejauh ini, namanya hanya muncul beberapa kali dalam arsip surat kabar digital Hindia Belanda dan dokumen birokrasi kolonial terkait kasus arca palsu tersebut.

Salah satu peneliti yang saat ini diketahui tengah menelusuri jejak Kertowidjojo adalah Caroline Drieënhuizen, peneliti asal Belanda yang mengkaji sejarah kolonial di Hindia Belanda.

Walau data biografisnya masih minim, sejumlah petunjuk mengarah pada kemungkinan bahwa bahwa Kertowidjojo bukan perajin biasa. Ia menyandang gelar Mas Bei atau Mas Behi, diduga bentuk pendek dari Mas Ngabehi, salah satu gelar kebangsawanan dan birokrasi di lingkungan Keraton Surakarta.

Apabila dugaan itu benar, Kertowidjojo kemungkinan berasal dari kalangan priyayi atau setidaknya dekat dengan elite keraton. Status sosial itu bisa menjelaskan aksesnya terhadap wawasan kriya logam, pengetahuan estetika Jawa klasik, dan kemampuan produksi arca dalam skala industri di masanya.

0 Komentar