Namun, arca-arca buatan Kertowidjojo disebut punya kualitas berbeda. Alih-alih sekadar tiruan kasar, detail visual pada arca buatannya justru cukup meyakinkan hingga tembus pasar Eropa dan menarik perhatian kolektor Barat.
Sampai kini belum ditemukan arsip yang benar-benar menjelaskan motif pribadi Kertowidjojo memproduksi arca-arca palsu tersebut. Dokumen kolonial hanya menempatkannya sebagai pembuat “barang antik palsu” yang berhasil memasok pasar Eropa.
Namun, caranya memilih Kedu sebagai latar, kemampuan membaca demam barang purbakala di kalangan kolektor Belanda, hingga sistem produksi yang disebut sebagai sebuah “industrie”, membuktikan bahwa ia tidak hanya menjalankan kerja-kerja kriya biasa. Ia seperti memahami cara pasar kolonial bekerja, tahu jenis artefak idaman orang kulit putih, lalu mengubah wawasan teknis kriya Jawa menjadi komoditas bernilai tinggi.
Teknologi Logam Jawa di Balik Arca Palsu
Baca Juga:Apa Isi Prasasti Damalung? Artefak Bersejarah yang Dipulangkan Belanda ke IndonesiaIndonesia Alami Sejumlah Kendala Pemulangan Prasasti Pucangan dari India
Keberhasilan Kertowidjojo mengecoh pasar seni Eropa diduga lahir dari tradisi metalurgi Jawa yang memang sudah berkembang berabad-abad. J.E. Jasper dan M. Pirngadie, dalam buku De Inlandsche Kunstnijverheid in Nederlandsch-Indië (1927), menunjukkan bahwa pengrajin logam di Jawa, terutama di Surakarta dan Yogyakarta, sudah menguasai teknis olah logam kompleks.
Jasper dan Pirngadie mencatat, saat membuat benda seni seperti arca, perajin Jawa memakai metode cor lilin mati, yang dikenal secara global sebagai cire perdue. Penulis mengonfirmasi:
“De was in den voorvorm smelt tengevolge van de hitte, vloeit langs de gietopening naar buiten en verbrandt in den oven, de was gaat dus verloren (cire perdue) en laat daardoor in den vorm een ruimte over voor het vloeibare metaal.”
Untuk membuat arca logam berongga, agar bentuk arcanya proporsional dan hemat material logam, para master kriya Jawa terbiasa memodelkan arca menggunakan bantuan inti dari tanah liat (kern van klei). Inti tanah liat tersebut dibentuk sedemikian rupa, lalu dilapisi lilin lebah hitam (zwart) tradisional yang dibeli di pasar, yang dikenal oleh warga lokal sebagai “lilin”.
Di atas lapisan lilin hitam itulah detail ornamen halus dewa-dewi diukir secara presisi, sebelum seluruh model dibungkus oleh cetakan tanah luar. Lalu, mereka membakar cetakan agar lilin di dalamnya meleleh, mengalir keluar, sampai menyisakan rongga yang secara lokal dinamakan proses “noenoes” (oenoes) atau “bësëm”.
