Dialah yang meletakkan dasar penalaran observasional dan pengukuran cermat untuk menemukan fakta-fakta ilmiah, menggeser penalaran filsafat Aristotelian yang hingga pada abad ke-17 masih sibuk pada pencarian sebab yang semakin tak relevan dan sering meleset (hlm. 58).
Jelasnya, ia mencetuskan kemandirian sains, terutama fisika dan astronomi, dari filsafat alam Aristotelian yang dianut para filsuf dan teolog abad ke-17. Observasinya atas fenomena langit, misalnya, membuka jalan untuk penerimaan teori heliosentris Nicolaus Copernicus. Padahal teori itu tak sesuai doktrin Gereja Katolik dan karenanya dianggap terlalu radikal.
Drake dalam bukunya menulis, “Sikapnya menentang wewenang para filsuf yang telah terlanjur diakui selama ini tentu saja membuat mereka yang ditentang itu mencari dukungan Kitab Suci […] Peran Galileo di dalam pertentangan tersebut lalu dianggap sebagai tindakan menentang kepercayaan agama dengan dalih ilmu pengetahuan” (hlm. 1).
Baca Juga:Illuminati, Organisasi Rahasia yang Melahirkan Banyak Teori KonspirasiLatar Belakang Revolusi Prancis 1789: Krisis, Ketimpangan, dan Runtuhnya Monarki
Diskursus itulah yang lalu diadaptasi dan diramu Dan Brown sebagai konflik utama novelnya. Tentu saja, perburuan Illuminati, kode 503, dan monograf Diagramma della Verita adalah fiksi belaka. Namun, dua karya Galileo lainnya memang nyata dan salah satunya membuatnya berurusan dengan Inkuisisi.
Pada awal 1616 Dewan Inkuisisi menemukan tulisan Galileo yang dianggap mendukung teori Copernicus. Tak lama setelahnya Sri Paus, atas rekomendasi dari Dewan Inkuisisi, melarang Galileo mendukung atau mengajarkan teori heliosentris. Jika melanggar maka Dewan Inkuisisi akan membawa Galileo ke pengadilan.
Great Books of the Western Worldvol. 26 menyebut bahwa Galileo tak pernah mengangkat lagi soal astronomi Copernican sampai 1627. Kala itu ia memang sedang menyusun suatu buku tentang hubungan antara pasang-surut air laut dengan peredaran bulan (hlm. 126).
Buku itu diselesaikan Galileo pada 1630 tapi baru diterbitkan pada 1632. Semula Galileo hendak menjudulinya “Dialog tentang Pasang-Surut”, namun dilarang Vatikan. Ia lantas menerbitkannya dengan judul Il Dialogo Sopra i Due Massimi Sistemi del Mondo—Dialog tentang Dua Sistem Dunia alias Dialogo dalam novel Dan Brown.
Seturut penjelasan Drake, isi buku itu berupa dialog empat hari antara seorang pendukung teori astronomi baru dan seorang Aristotelian konservatif. Dialog pertama digunakan Galileo untuk menjelaskan bahwa astronomi Aristotelian berdasar pada asumsi yang tak bisa dibuktikan. Lalu baru beranjak pada penjelasan tentang revolusi bumi mengelilingi matahari dan fenomena-fenomena alam yang ditimbulkannya (hlm. 127-128).
