‘Persahabatan’ Haji Hasan Mustapha dan Snouck Hurgronje

Buku Informan Sunda Masa Kolonial e1552469008183
Dok. Kineruku
0 Komentar

Hubungan ia dengan guru tarekat nya, Kiai Muhammad membuat ia diminta menggantikan guru nya yang lain—setelah meninggal. Mereka kemudian berangkat ke Mekkah yang kemudian tinggal disana selama 6 tahun.

Selama di Mekkah, ia juga berguru kepada banyak ulama tarekat disana. Baik dari kalangan Qadiriyah, Naqsabandiyah, maupun Syattariyah. Bahkan C. Snouck Hurgronje pun pernah menyatakan bahwa Haji Hasan Mustapa pernah berguru kepada Ulama Terkenal Asal Banten, Syaikh Nawawi Al-Bantani. Singkatnya, Haji Hasan Mustapa tidak bisa dilepaskan dari poros jaringan Sayyid Ulama Hijaz.

Sekembalinya dari tanah suci, Haji Hasan Mustapa berteman dekat dengan C. Snouck Hurgronje, yang mana saat itu C. Snouck Hurgronje sedang menjabat sebagai penasihat Pemerintahan Kolonial Belanda.

Baca Juga:Turki Usmani di Mata JawaJangka Sabda Palon: Ramalan Kehancuran Islam di Tanah Jawa?

Selain dekat dengan C. Snouck Hurgronje, ia juga dekat dengan penasihat Belanda di periode setelahnya, seperti G. A. Hazeu (1870-1929), Van Ronkel, Plenter, Branders, dan pejabat lainnya. Kedekatan ia dengan para pejabat Belanda dikarenakan ia sering dimintai pendapat perihal masalah sosial-keagamaan di Jawa Barat.

Bahkan ia pun menjelaskan kesan dan penilaiannya terhadap para pejabat Belanda seperti berikut,

“Terutama sejak kecil, begitu sayangnya Tuan K. F. Holle lalu berlanjut oleh Tuan Doktor Branders, bujangga Eropa hingga meninggalnya di Betawi. Oleh Tuan Dr. van Ronkel yang pindah dari Betawi ke Padang, menjadi bujangga Bahasa Melayu. Oleh Tuan Dr. Hazeu, Direktur Ondewijs en Eredienst, serta Adviseur voor Indakndschezakerr, oleh Tuan Dr. Rinkes, Adviseur voor Indakndschezakerr, serta kepala pengurus Komisi voor de Volkslectuur intelektual bumiputera Hindia Belanda. Selain itu, masih banyak lagi, semua merasa sayang bukan karena saya pintar, tapi oleh karena hidup prihatin, karena kesabarannya. Bahkan Tuan Dr. van Ronkel menyebutnya juga si kepala sabar”.

Sebagai seorang santri, Haji Hasan Mustapa berbeda dengan kalangan santri pada umumnya—yang menempatkan diri sebagai kelompok independen dan berada di luar sistem kekuasan Kolonial Belanda yang tentu menentang pemerintahan Kolonial Belanda.

Ia justru memilih masuk ke dalam sistem kekuasan kolonial, selain itu tradisi yang dia kembangkan juga terdapat perbedaan dibanding tradisi pesantren di Tanah Sunda pada umumnya.

0 Komentar