Ia lebih tertarik pada pergumulan sastra dan budaya sunda. Akibatnya banyak kalangan dari Umat Islam yang tidak menyukainya, karena pemikirannya dianggap berbeda. Bahkan pada beberapa karya nya, ia dinilai penyerang ajaran-ajaran Islam. Sebab itu, ia juga dikenal sebagai Ulama mahiwal (aneh, nyeleneh, eksentrik). Meskipun, sebagai ‘Ulama Birokrat’, ia berhubungan baik dengan berbagai kalangan pesantren.
Hubungan Haji Hasan Mustapa dan C. Snouck Hurgronje
Snouck Hurgronje, sebagai penasihat Belanda paling berpengaruh dalam sejarah Kolonial, tentu tak lepas dari bantuan warga pribumi yang memang mengerti tentang kondisi daerahnya. Adalah Haji Hasan Mustapa salah satu informan C. Snouck Hurgronje. Haji Hasan Mustapa adalah informan kunci bagi C. Snouk Hurgronje yang memberikan informasi penting terkhusus perihal Masyarakat Aceh dan Priangan.
Pertemuan pertama antara Haji Hasan Mustapa denga C. Snouck Hurgronje diperkiran ketika Haji Hasan Mustapa tinggal di Mekkah selam belasan tahun (1860-1862, 1869-1873, 1880-1885), pertemuan itu diperkirakan pada tahun 1885 M. Saat C. Snouck Hurgronje ‘menimba’ ilmu selama 6 bulan di Mekkah. Pertemuan itu semakin mempererat keduanya. Komunikasi antar keduanya terus berlanjut. Karena keduanya sama-sama menguasi Bahasa arab, maka korenspondensi antar kedua nya dilakukan dalam Bahasa arab.
Baca Juga:Turki Usmani di Mata JawaJangka Sabda Palon: Ramalan Kehancuran Islam di Tanah Jawa?
Hubungan persahabatan itu berlanjut bahkan kedua nya berjanji bertemu di Hindia Belanda. Tahun 1889, C. Snouck Hurgronje tiba di Hindia Belanda. Bahkan istri kedua Snouck di Hindia Belanda, Siti Sadijah adalah putri dari wakil penghulu Priangan saat Haji Hasan Mustapa menjabat sebagai penghulu priangan.
Kemudian, karena kedekatan keduanya, C. Snouck Hurgronje pun mengajak Haji Hasan Mustapa berkeliling di daerah Sunda dan Jawa. Mengunjungi Ponorogo, Madiun, Surakarta, Yogyakarta, termasuk ke beberapa pesantren. Haji Hasan Mustapa selepas melakukan perjalanan banyak menyalin berbagai primbon, kitab, dan pustaka jawa yang kemudian diserahkan kepada C. Snouk Hurgronje. Termasuk perihal buku-buku tasawuf. Untuk itu, Haji Hasan Mustapa dibayar sekitar f 50 per bulan.
Selanjutnya, ia pun disarankan oleh C. Snouck Hurgronje menjadi Penghulu di Kutaraja Aceh. Sebab C. Snouck Hurgronje kagum terhadap sosok Haji Hasan Mustapa. Menjelang pengangkatan sebagai Penghulu Kutaraja Aceh, C. Snouck Hurgronje mengirimkan surat kepada sekertaris pemerintahan di Buitenzorg yang berisi :
