Menyelami Pemikiran Kartini: Feminisme, Teosofi dan Snouck Hurgronje

COLLECTIE TROPENMUSEUM Studioportret van Raden Ajeng Kartini met haar ouders zussen en broer TMnr 10018778
Kartini dan keluarga. Sumber foto: koleksi digital Tropenmuseum
0 Komentar

Sebuah Kenyataan, Kartini dan Ajaran Teosofis[4]

Terlepas dari isu feminis, isu lain yang marak diperbincangkan dan dikaitkan dengan Kartini adalah isu teosofisme. Pada tahun 1901 Masyarakat Teeosofi Internasional berdiri di Indonesia secara resmi, meskipun sebelumnya pada 1881 sudah berdiri The Theosophical Society di Pekalongan. Teosofi dapat diterima oleh kalangan elit Jawa karena coraknya yang bersifat kebatinan dan ritual-ritual mistis (okultisme-pen) antara teosofi dan kejawen memiliki kesamaan.[5]

Surat-surat Kartini, jika dicermati lebih dalam, ternyata kental akan nuansa teosofisnya. Kartini sendiri bahkan pernah melakukan ritual pemanggilan roh seperti yang dilakukan oleh kelompok teosofi, dalam korespondensinya kepada Tn. van Kol pada 30 April 1902, Kartini bercerita bahwa ia berhasil memanggil roh sesuai cara yang diajarkan Tn. van Kol

“…Kami telah mengikuti saran Anda, mengikat pensil ke sepotong bambu yang ringan. Juffrow Glaser dan aku memeganginya, kemudian ini (pensil-pen) mulai bergerak. Ada seseorang di sana, dan itu adalah roh penjagaku. Kami mengajukan pertanyaan kepadanya, tongkat itu bergerak tanpa arah hingga tiba-tiba bergerak maju dan menuliskan jawaban pertanyaan kami, ia menulis kata ‘baik’ 3x”[6]

Baca Juga:Kontroversi Jelang Kematian KartiniBangunan Ini Dijuluki ‘Makam Kesepian’

Kartini juga kerap mendapat kiriman buku-buku dari Ny Abendanon, di antaranya adalah buku tentang humanisme, paham yang lekat dengan teosofi dan freemasonry. Buku-buku tersebut di antaranya adalah, Karaktervorming der Vrouw (Pembentukan Akhlak Perempuan-pen) karya Hélène Mercier, Modern Maagden (Gadis Modern-pen) karya Marcel Prevost, De Vrouwen an Socialisme (Wanita dan Sosialisme-pen) karya August Bebel dan Berthold Meryan karya seorang sosialis bernama Cornelie Huygens.[7]

Berikut surat-surat Kartini yang sangat kental dengan doktrin-doktrin teosofi:

“Betapapun jalan-jalan yang kita lalui berbeda, tetapi kesemuanya menuju kepada satu tujuan yang sama, yaitu Kebaikan. Kita juga mengabdi kepada Kebaikan, yang tuan sebut Tuhan, dan kami sendiri menyebutnya Allah.”[8]

“…Seorang malaikat Tuhan telah turun langsung dari langit kepada kami untuk memberikan karunia Tuhan yang paling indah, yang hampir mati, kalau tidak sudah mati dalam diri kami: kepercayaan akan Kebaikan, keindahan yang abadi, harapan aka masa depan yang baik dan cinta akan kemanusiaan dan kehidupan”[9]

0 Komentar