Menyelami Pemikiran Kartini: Feminisme, Teosofi dan Snouck Hurgronje

COLLECTIE TROPENMUSEUM Studioportret van Raden Ajeng Kartini met haar ouders zussen en broer TMnr 10018778
Kartini dan keluarga. Sumber foto: koleksi digital Tropenmuseum
0 Komentar

CARUBAN NAGARI-“Akan datang juga kiranya keadaan baru dalam dunia Bumiputera; kalau bukan karena kami, tentu karena orang lain.. kemerdekaan perempuan telah terbayang-bayang di udara”[1]

Ia berpendapat, dan pendapat tersebut ia perjuangkan melalui tulisan-tulisannya, bahwa perempuan harus cerdas. Meskipun begitu, ia tidak pernah mengharapkan atau mengajarkan tentang emansipasi perempuan yang dimaknai sebagai: perempuan bebas keluar, berebut karir, dan menjadi pesaing para laki-laki di berbagai lapangan kehidupan untuk kemudian membiarkan anak-anak dan rumah tangganya terbengkalai. Kartini menginginkan perempuan cerdas dan mampu menjalani hidup dan kodratnya sebagai perempuan.[2]

Jadi dapat dikatakan bahwa Kartini memang menginginkan perbaikan dan keadilan bagi segala aspek kehidupan perempuan, namun tidak sampai titik ekstrim feminis yang menentang keras segala bentuk patriarkisme.

Baca Juga:Kontroversi Jelang Kematian KartiniBangunan Ini Dijuluki ‘Makam Kesepian’

Bibit feminisme sudah sejak masa penjajahan ditanamkan kepada bangsa Indonesia. Salah satunya dengan pembentukan karakter Kartini yang disetir sedemikian rupa oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.

Padahal, tidak ada alasan bangsa Indonesia mengikuti langkah gerakan feminis perempuan Eropa, karena latar belakang sejarah keduanya pun jauh berbeda. Dari sejarahnya, menurut McKay, dekade 1560 dan 1648 merupakan penurunan status perempuan di masyarakat Eropa, pada masa itu perempuan hanya dianggap sebagai makhluk kelas dua di dunia, makhluk inferior, yang bahkan dalam pernikahan pun, perempuan tidak memiliki hak untuk bercerai dari suaminya dengan alasan apapun.[3]

Berangkat dari penvrienden Kartini di Eropa, maka kita kembali lagi ke Eropa. Pemikiran Barat yang filsafat ilmunya sangat mengenyampingkan wahyu, akan selalu menjadikan peperangan perennial antara rasionalisme dan empirisme. Akhirnya, feminis akan terjebak ke dalam empirisme, yaitu menjadikan pengalaman perempuan sebagai paradigma (worldview-pen). Padahal, konsep akal dalam Islam tidak dimaknai sebatas rasio atau logika saja sebagaimana pemikiran Barat.

Akal dalam Islam berdimensi dan merupakan satu kesatuan dengan qalb, ruh, dan nafs. Dikarenakan akal berdimensi spiritual, maka perempuan dalam Islam barang tentu tidak dianggap sebagai agen moral yang lebih rendah dari laki-laki, karena orang yang paling bermoral adalah orang yang paling bertakwa, dan kapasitas perempuan sama dengan laki-laki untuk mengejar derajat takwa.

0 Komentar