Menyelami Pemikiran Kartini: Feminisme, Teosofi dan Snouck Hurgronje

COLLECTIE TROPENMUSEUM Studioportret van Raden Ajeng Kartini met haar ouders zussen en broer TMnr 10018778
Kartini dan keluarga. Sumber foto: koleksi digital Tropenmuseum
0 Komentar

“Mengenai spiritisme yang dianutnya (Tn. van Kol-pen) dengan setia, sudah diceritakan Annie kepada Nyonya, bukan? Saya senang sekali bahwa diperkenalkan dengan kepercayaan itu, tidak untuk memanggil rohnya tetapi mengenai indahnya kepercayaan itu. Ajaran itu mendamaikan kami banyak hal, yang tampaknya ketidakadilan berat dan memberikan hiburan, bahwa kegagalan kami sekarang adalah penebusan dosa dalam kehidupan sebelumnya… kami sungguh-sungguh tercengang. Tn. van Kol mengatakan bahwa dia dan istrinya melalui spiritisme memperoleh banyak nasihat dari dunia arwah.” [10]

”Kalau orang mau juga mengajarkan agama kepada orang Jawa, ajarkanlah kepada mereka Tuhan yang satu-satunya, yaitu Bapak Maha Pengasih, Bapak semua umat, baik Kristen maupun Islam, Buddha maupun Yahudi, dan lain-lain.”[11]

Begitulah, kutipan-kutipan di atas sangat sarat maknanya dengan motto Masyarakat Teosofi, “There Is No Religion Higher Than Truth”atau dalam bahasa Sangsekerta Satyan Nasti Paroh Darma yang artinya “Tidak ada Agama yang Lebih Tinggi dari Kebenaran.” Doktrin yang terkandung dalam motto Teosofi inilah yang juga menjadi landasan dan asas bagi kelompok yang mengusung sinkretisme,[12] atau saat ini lebih dikenal dengan pluralisme agama.[13]

Mengenai keterkaitan dan hubungannya dengan teosofi, Kartini mengatakan:

Baca Juga:Kontroversi Jelang Kematian KartiniBangunan Ini Dijuluki ‘Makam Kesepian’

“Orang yang tidak kami kenal secara pribadi hendak membuat kami mutlak penganut Teosofi, dia bersedia untuk memberi kami keterangan mengenai segala macam kegelapan di dalam pengetahuan itu. Orang lain yang juga tidak kami kenal menyatakan bahwa tanpa kami sadari sendiri, kami adalah penganut Teosofi.”[14]

“…Tuhan kami adalah nurani, neraka dan surga kami adalah nurani. Dengan melakukan kejahatan, nurani kamilah yang menghukum kami. Dengan melakukan kebajikan, nurani kamilah yang memberi kurnia.” [15]

“Kebaikan dan Tuhan adalah satu.” [16]

Alam spiritual Kartini tidak hanya dipengaruhi oleh kepercayaan akan mistis Jawa, tetapi juga oleh pemikiran-pemikiran Barat. Inilah yang oleh kelompok Teosofi disebut sebagai upaya menyatukan antara ”Timur dan Barat”. Sebuah upaya yang banyak memikat para elit Jawa, terutama mereka yang sudah terbaratkan secara pemikiran.[17]

0 Komentar