Menyelami Pemikiran Kartini: Feminisme, Teosofi dan Snouck Hurgronje

COLLECTIE TROPENMUSEUM Studioportret van Raden Ajeng Kartini met haar ouders zussen en broer TMnr 10018778
Kartini dan keluarga. Sumber foto: koleksi digital Tropenmuseum
0 Komentar

Alih-alih menguatkan pendirian Kartini untuk mendukung argumennya agar tidak buru-buru menikah, Hurgronje malah mengatakan “…gadis Islam tidak pernah dewasa. Jika dia ingin bebas (dewasa-pen), dia harus menikah dahulu. Setelah itu boleh cerai lagi”[26]dan sebagaimana yang dituliskan dalam suratnya kepada Ny. Abendanon tanggal 22 April 1902, terlihat bahwa Kartini kecewa terhadap orientalis itu. “…Masih bisakah kemudian mereka berkata-kata dengan darah dingin setelah apa yang telah mereka nyatakan?..”[27]

Hurgronje dianggapnya bertentangan dengan cara pandang Kartini dalam memandang situasi perempuan di Jawa yang dianggap tertindas. Hal tersebut membuat Kartini pada akhirnya kecewa dan kehilangan rasa hormatnya terhadap Hurgronje.EPILOG

Jika diamati dari kutipan-kutipan korespondensi yang sudah terangkum dalam tulisan ini, dapat disimpulkan bahwa Door Duisternis Tot Licht ataupun buku-buku yang menjadikan karya Abendanon tersebut sebagai acuan/referensinya, memperlihatkan bahwa Abendanon telah memilah dan menyingkat korespondensi Kartini sedemikian rupa. Sedangkan Coté kebalikannya, ia dengan gamblang dan jelas menyalin korespondensi yang ada.

Baca Juga:Kontroversi Jelang Kematian KartiniBangunan Ini Dijuluki ‘Makam Kesepian’

Prof. Harsja W. Bachtiar mengatakan bahwa Kartini adalah sosok yang sengaja diciptakan oleh Belanda untuk menunjukkan bahwa pemikiran Barat-lah yang menginspirasi kemajuan perempuan di Indonesia. Atau setidaknya, bahwa proses asimiliasi yang dilakukan kelompok humanis Belanda yang mengusung Gerakan Politik Etis pada masa kolonial, telah sukses melahirkan sosok yang “tercerahkan”.[28]

Tulisan Kartini terutama terkait sisi keislamannya telah banyak dihilangkan dalam buku Door Duisternis Tot Licht sehingga citra Kartini yang ditangkap oleh pembaca adalah sosok perempuan yang feminis, dan jauh dari agamanya- Islam. Padahal gambaran tersebut tidak sepenuhnya benar. Sudah terjadi rekonstruksi yang berbeda bermakna pada pemikiran Kartini. Jika diibaratkan, terdapat qaul qadim dan qaul jadid dari pemikiran-pemikirannya di masa muda, dibandingkan dengan saat ia memasuki usia dewasa. Pemikiran tersebut terutama terkait kehadirat agama Islam, yang berimplikasi pada cara pandangnya terhadap wanita dan feminisme. Namun, walaupun sudah lebih mengenal Islam, tidak dapat dipungkiri bahwa Kartini juga telah terpengaruh ajaran teosofis.

Luar biasa bagaimana kekuatan sebuah karya dapat mengaburkan pandangan kita tentang Kartini. Ada banyak hal yang hilang dan keliru jika kita hanya menganggap buku Door Duisternis Tot Licht atau terjemahannya Habis Gelap Terbitlah Terang sebagai sumber sejarah yang layak untuk memahami Kartini secara utuh. Ada baiknya kita menilik karya yang lebih netral namun tentunya otoritatif untuk mengetahui siapa sosok Kartini yang digadang-gadang sebagai Ibu Kebanggaan Perempuan Indonesia. Wallahualam.Oleh: Ilma Asharina – Peserta kelas literasi “Memaknai Indonesia” Kerjasama JIB dan CADIK (Tulisan terdiri dari 4 artikel dan sudah tayang di jejakislam.net)

0 Komentar