Bersama Tjiptomangoenkoesoemo, Soewardi merupakan orang Jawa paling pertama yang mendorong tindakan politik sebagai jalan untuk memperkenalkan pembaruan sosial
Di usia 14 tahun Soewardi muda melanjutkan pendidikan di sekolah kedokteran STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen) di Batavia. Namun, ia keluar dari sekolah tersebut di tahun 1909 tanpa menyelesaikan pendidikannya tersebut.
Soewardi sempat bergabung dengan organisasi priyayi Jawa Boedi Oetomo (BO) (1908). Tapi tidak lama ia memutuskan keluar karena merasa organisasi ini ekslusif dan tidak progresif.
Baca Juga:Mengenang Perjuangan MA Sentot, Komandan Pasukan Setan CirebonTragedi Tragis di Balik Lahirnya May Day
Setelah keluar dari sekolah kedokteran, Soewardi sempat bekerja pada sebuah pabrik gula di Probolinggo selama setahun, kemudian pergi ke Yogyakarta bekerja pada perusahaan obat-obatan selama setahun. Di tahun 1912 ia pindah ke Bandung untuk menjadi jurnalis De Express atas saran Douwes Dekker yang tertarik dengan tulisan-tulisannya.
Bersama Tjiptomangoenkoesoemo, Soewardi merupakan orang Jawa paling pertama yang mendorong tindakan politik sebagai jalan untuk memperkenalkan pembaruan sosial (Scherer, 2012). Tidak merasa cocok dengan pendekatan yang diambil BO, Soewardi membantu Sarekat Islam (SI) yang dirasanya lebih radikal secara politik dan merakyat.
Menurut Takashi Shiraishi dalam Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926 (1997), ada dua SI yang muncul di tahun 1912, yang paling terkenal adalah SI Bandung yang kepemimpinannya dipimpin oleh para jurnalis: Soewardi Soerjaningrat sebagai ketua (De Express), A. Wignjadisastra sebagai sekretaris (Kaoem Moeda), dan sebagai wakil ketua, Abdoel Moeis (Preanger Bode).
Namun, kontribusi Soewardi yang jauh lebih penting dalam pergerakan antikolonialisme adalah keterlibatannya bersama Tjiptomangoenkoesoemo dan Douwes Dekker dalam organisasi Indische Partij (IP). Meskipun organisasi ini hanya berlangsung singkat selama setahun tapi, menurut R.E. Elson dalam The Idea of Indonesia (2009), IP adalah “organisasi yang jauh lebih penting bagi gagasan Indonesia modern ketimbang BO atau SI”.
IP adalah organisasi yang didirikan tahun 1912 oleh tokoh Indo Douwes Dekker, yang disebut oleh Poeze, sebagai “wartawan radikal yang kaya nuansa”. Meskipun IP memiliki anggota keturunan Eropa-Asia lebih banyak daripada orang Indonesia, tapi organisasi ini menginginkan agar orang Indo dan Indonesia bersatu menyatakan “kesatuan segenap rakyat Hindia”.
