‘Wartawan Radikal’, Raden Mas Soewardi Soerjaningrat: Seandainya Saya Seorang Belanda

1000x683 56878d4931acb3ed4c3fd51ccdfaad052caf0538
Para pengajar di Taman Siswa Yogyakarta | Koleksi Stichting Nationaal Museum van Wereld /CC BY-SA 3.0
0 Komentar

Sesampainya di pengasingan di Belanda, Soewardi tidak menjadi seorang pesakitan. Sebagai seorang buangan, ia bersama Tjipto dan Dekker diterima dengan penuh kehormatan oleh partai sosialis demokrat Belanda, Sociaal Democratische Arbeiders Partij (SDAP).

Mereka berbicara di hadapan tujuh pertemuan umum SDAP, bahkan dalam satu pertemuan di Amsterdam hadir sekitar 3.000 pendengar. Harian SDAP, Het Volk, bahkan memberikan satu halaman penuh kepada ketiga orang itu untuk berbicara pengalaman mereka dan perlakuan terhadap diri mereka.

Ia adalah orang yang berperan penting dalam mengubah jalannya Indische Vereeniging dari “perhimpunan untuk bersenang-senang” menjadi “perhimpunan yang terlibat politik dan menjadi pendukung kebebasan Hindia”.

Baca Juga:Mengenang Perjuangan MA Sentot, Komandan Pasukan Setan CirebonTragedi Tragis di Balik Lahirnya May Day

Di samping itu, Soewardi memberikan pengaruh politik yang cukup kuat terhadap organisasi pelajar Indonesia di Belanda, Indische Vereeniging, yang menjadi cikal bakal Perhimpunan Indonesia. Menurut Poeze (2008), Soewardi menduduki tempat yang sentral dan berwibawa di kalangan mahasiswa Indonesia.

Ia adalah orang yang berperan penting dalam mengubah jalannya Indische Vereeniging dari “perhimpunan untuk bersenang-senang” menjadi “perhimpunan yang terlibat politik dan menjadi pendukung kebebasan Hindia”.

Soewardi membantu penerbitan perdana Hindia Poetra yang menjadi majalah dari Indische Vereeniging di tahun 1916. Di luar itu, Soewardi juga menulis untuk koran-koran kiri Belanda, seperti Het Volk dan De Nieuwe Amsterdammer.

Kontribusinya yang perlu dicatat selama di pengasingan adalah mendirikan Kantor Berita Indonesia (Indonesisch Persbureau). Lembaga ini didirikan bertujuan untuk memberikan informasi kepada publik Belanda mengenai hal apa pun yang diperlukan oleh pihak Indonesia.

Yang menarik adalah meskipun ia masih menulis mengenai persoalan-persoalan politik, Soewardi tidak secara mencolok membuat pernyataan apa pun tentang mutu pemerintahan kolonial Belanda secara tajam. Di negeri Belanda yang relatif lebih bebas dalam menyampaikan pendapat, ia malahan “menahan diri dan tidak menyatakan pendapat yang bernada mencela Belanda dan kolonialisme Belanda” (Scherer, 2012).

Selama masa pengasingannya di Belanda inilah Soewardi menulis dengan gaya yang lebih moderat dan mengalihkan perjuangan politiknya yang radikal ke masalah-masalah kebudayaan dan hak asasi perseorangan (Scherer, 2012). Di Belanda ini juga, ketika menempuh pendidikan guru, Soewardi semakin tertarik dalam mendalami pemikiran tokoh-tokoh pendidikan dunia, seperti Montesorri, Frobel, sampai sastrawan terkenal India Rabindranath Tagore.

0 Komentar