Dengan mendaku sebagai seolah-olah seorang Belanda, Soewardi mengatakan bahwa tidak etis bagi para kolonialis untuk menyelenggarakan peringatan kemerdekaan di negeri jajahan di mana orang-orang yang terjajah itu sudah mempunyai keberanian untuk tidak mematuhi Belanda.
Menurut Soewardi, “Seandainya saya seorang Belanda, maka kiranya saya tak menyelenggarakan perayaan kemerdekaan di tanah yang penduduknya tak kita beri kemerdekaan … Berikanlah dulu kemerdekaan kepada bangsa terjajah itu, barulah kita merayakan kemerdekaan kita sendiri”.
Scherer (2012) mengatakan “sifat dasar eksplosif dari tulisan ini bukanlah semata-mata karena nada provokatifnya, melainkan juga karena artikel itu diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu dan kemudian dibagikan sebagai surat selebaran terpisah yang memungkinkan orang yang tidak dapat berbahasa Belanda membacanya”.
Baca Juga:Mengenang Perjuangan MA Sentot, Komandan Pasukan Setan CirebonTragedi Tragis di Balik Lahirnya May Day
Pertama kalinya seorang aktivis Indonesia mengkritik pemerintah kolonial dengan keras kemudian disebarkan kepada kalangan luas. Yang membuat efek tulisan tersebut lebih dahsyat adalah pamflet itu ditulis oleh seorang aristokrat Jawa yang jelas mempunyai pengaruh besar di tengah-tengah masyarakat.
Dengan latar belakang sosial yang berpengaruh, Soewardi mempunyai kekuatan yang lebih berbahaya sebagai pembentuk pendapat yang mengancam pemerintah kolonial daripada rekan-rekan perjuangannya, seperti Tjiptomangoenkoesoemo, Douwes Dekker, ataupun Abdoel Moeis.
Apalagi sebagai seorang aristokrat Jawa yang kurang lebih masih dianggap tradisional waktu itu, pendapat Soewardi dianggap dapat menciptakan kegawatan yang mampu menimbulkan satu sikap rakyat yang lebih kritis terhadap Belanda.
Menariknya adalah pada awalnya pemerintah Belanda tidak mempercayai bahwa Soewardi lah yang menulis esai politik tersebut. Mereka menduga “si pembangkang” Tjiptomangoenkoesoemo sebagai orang yang menulis karangan itu atau setidaknya esai tersebut ditulis Soewardi di bawah pengaruh dan tekanan dari dokter itu (Scherer, 2012).
Seminggu kemudian tanggal 28 Juli 1913 Soewardi menulis esai berjudul “Semua untuk Satu tetapi juga Satu untuk Semua” di harian De Express yangmengatakan bahwa dialah orang yang berada di balik tulisan “Seandaianya Saya Seorang Belanda”.
Kemarahan pemerintah Belanda atas tulisan Soewardi tersebut menyebabkan Gubernur Jenderal menggunakan Exorbitante Rechten – hak istimewa Gubernur Jenderal Hindia Belanda untuk untuk menangkap, membuang, dan memberangus pers, dan sebagainya – untuk membuang tiga serangkai, Soewardi, Tjipto, dan Douwes Dekker, ke Belanda.
