‘Wartawan Radikal’, Raden Mas Soewardi Soerjaningrat: Seandainya Saya Seorang Belanda

1000x683 56878d4931acb3ed4c3fd51ccdfaad052caf0538
Para pengajar di Taman Siswa Yogyakarta | Koleksi Stichting Nationaal Museum van Wereld /CC BY-SA 3.0
0 Komentar

CARUBAN NAGARI-Tidak banyak yang mengetahui nama Soewardi Soerjaningrat. Tapi bila nama ubahannya, Ki Hadjar Dewantara, yang digunakan maka orang menjadi sangat familiar. Nama itu dikenal sebagai tokoh pembaharu pendidikan Indonesia. Lewat pendirian Taman Siswa di tahun 1922.

Sebelum ia mengganti nama bangsawannya menjadi lebih egaliter di tahun 1922, tidak banyak yang tahu bahwa Ki Hadjar Dewantara adalah salah satu tokoh penting di awal pergerakan Indonesia. Sebelum berjuang lewat jalur “politik pendidikan” melalui Taman Siswa, ia menempuh jalan “politik pergerakan” dengan membangun organisasi, mengkritik pemerintah kolonial dengan tulisan, dan berceramah di vergadering.

Soewardi dikenal sebagai patron bagi para aktivis nasionalis Indonesia yang lebih muda. Benedict Anderson dalam karyanya Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism (2006) menyebutnya sebagai “nasionalis Jawa-Indonesia awal”.

Baca Juga:Mengenang Perjuangan MA Sentot, Komandan Pasukan Setan CirebonTragedi Tragis di Balik Lahirnya May Day

Tapi Soewardi tidak hanya bisa dianggap sebagai salah satu pelopor pergerakan antikolonial Indonesia. Warisannya yang tak kalah berpengaruh bagi gerakan kemerdekaan Indonesia adalah formulasi gagasannya yang radikal dan visioner bagi pembentukan Indonesia modern bersama Tjiptomangoenkoesoemo dan Douwes Dekker dalam organisasi Indische Partij (IP).

Soewardi Soerjaningrat lahir dari keluarga aristokrat terkemuka Yogyakarta, Paku Alam, pada tanggal 2 Mei 1889. Ayahnya Pangeran Soerjaningrat adalah putra tertua dari Pangeran Paku Alam III.

Meskipun ia berasal dari keluarga kerajaan, menurut Savitri Scherer dalam Keselarasan dan Kejanggalan: Pemikiran-Pemikiran Priyayi Nasionalis Jawa Awal Abad XX (2012), keluarganya secara relatif jatuh miskin karena pengalihan kepemimpinan keluarga itu kepada Paku Alam V dan pengikutnya. Ayahnya yang hanya menjadi salah satu dari banyak pangeran dalam kelompok pangeran yang lebih rendah hanya menerima sedikit bantuan dari pemerintah Belanda.

Dengan kondisi latar belakang ekonomi dan status sosialnya tersebut maka Soewardi tidak menempuh pendidikan yang paling istimewa untuk golongan elite bumiputera, yaitu HBS (Horgere Burger School) maupun di sekolah administratif OSVIA (Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren) (Scherer, 2012).

Meskipun demikian, Soewardi mewakili semangat “zaman kemajuan” di awal abad ke-20; yakni pada saat banyak dari golongan bangsawan bumiputera yang meraih status “kebangsawanannya” melalui jalan profesional atau ilmu pengetahuan daripada sekedar mewarisi titel bangsawan dari trah keturunan keluarga.

0 Komentar