Joss Wibisono dalam artikelnya “Soewardi di Pengasingan: Nasionalisme versus Sosialisme” (2014) di Lembaran Sejarah menyatakan bahwa selama di pengasingan Soewardi menunjukkan kecondongan haluan dan pemikiran politiknya kepada “nasionalisme kanan”.
Dalam sebuah pertemuan yang diselenggarakan oleh perhimpunan Tionghoa Chung Hwa Hui, Soewardi melakukan debat dengan Sneevliet yang sama-sama diusir dari Indonesia karena aktivitas politik radikalnya. Sneevliet menyatakan bahwa jalan keluar menuju pembebasan Indonesia adalah perjuangan kelas yang revolusioner. Sementara itu, Soewardi tidak setuju akan hal itu dengan alasan bahwa Indonesia belum cukup matang untuk itu.
Sebuah laporan dalam majalah De Nieuwe Amsterdammer menuliskan debat hebat antara Soewardi dan Sneevliet mengenai nasionalisme dan sosialisme di Indonesia tersebut. Laporan itu mengatakan “(Soewardi) orang Timur ini, nasionalis yang tegas dan pembenci penjajah ini, membayangkan pembebasan bangsanya dengan segera, namun dengan cara tertib dan dengan cara yang sudah dipikirkan masak-masak. Itu bukanlah pembebasan yang diperoleh lewat pemberontakan yang sekejap dicetuskan”.
Baca Juga:Mengenang Perjuangan MA Sentot, Komandan Pasukan Setan CirebonTragedi Tragis di Balik Lahirnya May Day
Periode pembuangan di Belanda menurut saya merupakan episode yang paling menarik yang mempengaruhi kecenderungan politik Soewardi di tahun 1920an ketika ia semakin dalam terlibat dalam kegiatan “pembaruan kebudayaan” melalui Taman Siswa.
Ketika Soewardi Soerjaningrat melepaskan nama kebangsawanannya menjadi Ki Hadjar Dewantara pada tahun 1920an, kita dapat melihat bahwa semakin dalam keterlibatan Soewardi di pembaruan kebudayaan, semakin banyak pandangan reformis sosialnya yang radikal digantikan pelan-pelan oleh suatu pendirian revisionis yang lebih lunak. (*)
