Selusur Nama Santang dan Sancang

Kramat Talun
Kramat Talun Cirebon sebagai Makam Prabu Cakrabuana
0 Komentar

Kisah lainnya terkait Kian Santang berjumpa dengan Sayidina Ali bin Abi Thalib serta Rasulullah dan para sahabat alinnya tidak kita bahas. Kisah-kisah seperti ini tidak dapat dijadikan sumber historis. Namun demikian, dalam kisah babad ada sebuah tujuan yang dimaksudkan oleh penulisnya. Diantaranya sebagai pengukuhan syiar agama dan penggambaran bahwa ajaran yang dibawa Kian Santang otentik dengan menggambarkan bahwa Kian Santang sendiri bertatap muka langsung dengan Rasulullah. 

Dimana makam Pangeran Walangsungsang? Ada Keramat Talun Pangeran Cakrabuana Mbah Kuwu Sangkan di Desa Cirebon Girang, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon terdapat 2 makam kramat. Juru bicara Keramat Talun, Mochamad Tohir menuturkan, Pangeran Cakrabuana merupakan putra mahkota Kerajaan Pajajaran, berjuluk Pangeran Walangsungsang. Karena berbeda prinsip dalam hal agama dengan ayahnya, Prabu Siliwangi, pada usia 14 tahun Pangerang Walangsungsang keluar dari Kerajaan Pajajaran menuju Godog di Garut. Makam itu bukan bukan makam Mbah Kuwu Sangkan tetapi makam santri untuk membantu Mbah Kuwu dalam menjalankan syiar Islam.

Bagaimana dengan Kian Sancang? Asal-usul nama Kian Sancang berasal dari cerita rakyat secara tutur tinular. Demikian adanya untuk kisah yang terjadi diluar istana tidak ditulis dalam catatan resmi. Bahkan penulisan babad, serat dan kidung pun bersifat istana sentris. Sosok Kian Sancang adalah nama seorang pemuda dari sebuah tempat bernama Sancang. Konon ia turunan Maharaja Kertawarman Raja Tarumanagara dari seorang perempuan kasta rendah (sudra) di tepi sungai Cikaengan Hutan Sancang bernama Nhay Arum honje.

Baca Juga:Bukan Palestina, Usulan Jurnalis Berdarah Yahudi Didirikan di UgandaKeluarga Sultan Amir Sena Islah Membangun Cirebon

Dari nama Kian Sancang ini sangat lekat dengan nama “leuweung Sancang” atau hutan Sancang. Menurut cerita rakyat pakidulan, bahwa sosok Kian Sancang berbeda dengan Kian Santang. Warga Sunda sering mempertukarkan kedua nama ini sebagai satu sosok. Kian Santang hidup pada abad ke-15, sedangkan Kian Sancang hidup pada abad ke-7. Rakeyan Sancang (lahir 591 M) putra Raja Kertawarman (Kerajaan Tarumanagara 561 – 618 M). Rakeyan Sancang inilah yang sering dirancukan dengan putra Sri Baduga Maharaja, yaitu Raja Sangara, yang menurut Babad Godog dan Wawacan Keyan Santang (WKS) yang terkenal dengan sebutan Prabu Kiansantang atau Sunan Rohmat Suci.

0 Komentar